Hati-hati Beli iPhone 18 Online, Ada Situs Palsu Siap Menipu

TopCareer.id – Kemunculan iPhone baru selalu jadi momen bagi para penjahat siber mencari mangsa, termasuk di tengah penjualan iPhone 18.
Pakar keamanan siber dari Kaspersky pun mengungkapkan keberadaan situs palsu yang mencoba mengelabui konsumen dengan promo iPhone 18 fiktif.
Situs-situs semacam ini banyak ditemukan dalam berbagai bahasa termasuk Inggris, Arab, Portugis, dan lain-lain.
“Selama bertahun-tahun, kami telah melihat munculnya berbagai penawaran penipuan yang bertepatan dengan peluncuran perangkat populer,” kata Olga Altukhova, Senior Web Content Analyst di Kaspersky, mengutip siaran pers, Selasa (29/9/2026).
Ia mengatakan, antusiasme konsumen memunculkan celah yang dapat digunakan penipu untuk meningkatkan peluang mendapatkan korban.
Salah satu situs yang teridentifikasi menawarkan kesempatan kepada pengguna untuk “membeli” perangkat baru, lengkap dengan rincian spesifikasi teknis dan diskon sebesar 25 persen.
Di antara beberapa metode pembayaran, tersedia juga metode menggunakan Bitcoin.
Baca Juga: Serangan Scam Call di Indonesia Naik 3 Kali Lipat
Tampilan situs yang dibuat meyakinkan bertujuan untuk melemahkan kewaspadaan pengguna serta mendorong mereka memasukkan informasi pribadi dan mentransfer dana.
Bukannya mendapat iPhone baru, korban berisiko mengalami kerugian finansial.
Situs palsu lain muncul menyasar warga Brasil. Warga diajak untuk melakukan pre-order iPhone 18 Pro dalam berbagai pilihan warna dan memilih kapasitas penyimpanan yang diinginkan.
Supaya tampil lebih meyakinkan, situs ini mengklaim bahwa pelanggan tidak perlu membayar lunas di awal dan dapat melunasi sisa pembayarannya di kemudian hari.
Selain itu, “penjual” menjanjikan pengembalian dana penuh jika pembelian dibatalkan. Klaim semacam ini pun tidak patut dipercaya.
Baca Juga: ARMY Hati-Hati, Ada Situs Palsu Berkedok Tur BTS
Situs palsu ini lalu meminta informasi pribadi pengguna termasuk nama lengkap, nomor telepon, alamat email, kota tempat tinggal, bahkan kontak WhatsApp, yang dapat disalahgunakan dalam skema rekayasa sosial.
Pembeli lalu diminta memberikan detail kartu bank mereka. Setiap langkah ini pun dirancang untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin yang berisiko dicuri, sementara dana di rekening korban dikuras habis.
Altukhova pun menyarankan pengguna untuk ekstra hati-hati saat memilih tempat berbelanja dan hanya melakukan pembelian melalui pengecer resmi serta terpercaya.
“Penawaran yang tampak terlalu indah untuk menjadi kenyataan, serta pilihan produk yang lebih beragam atau berbeda dari yang diumumkan secara resmi oleh perusahaan, harus dianggap sebagai tanda bahaya yang jelas,” ujarnya.



