real
        time web analytics

Info

Indonesia Butuh Tambahan 1.000 Asesor


TOPCAREER.ID – Kebutuhan akan asesor di Indonesia kian meningkat. Indonesia membutuhkan jumlah asesor sebanyak dua kali lipat dari asesor saat ini yang sebanyak 700 hingga 1.000 orang.

Ketua Perkumpulan Assessment Center Indonesia (Passti) Teuku Zilmahran mengatakan saat ini setiap asesor di Indonesia melakukan assessment sebanyak sekitar 4 hingga 5 orang setiap tahunnya. Padahal, idealnya 1 orang asesor hanya memegang maksimal 2 orang yang di-assessment.

"Idealnya 1:2 ya sekarang mereka megang 5 orang untuk di-assessment akibatnya ketika orang pertama belum selesai dan mundur waktunya jadi waktu orang kedua baru bisa dimulai," ujar Zilmahran beberapa waktu laku.

Saat ini, sangat dibutuhkan tambahan tenaga asesor untuk dapat memenuhi kebutuhan melakukan assessment sumber daya manusia. Pasalnya, assessment center ini wajib digunakan dalam tahap penyeleksian direksi perusahaan pelat merah atau BUMN.

"Bayangkan jumlah asesor yang ada menyeleksi 5 kandidat setiap bagian direkai di 140 BUMN belum sama anak perusahaan BUMN itu. Banyak sekali bukan, saat ini jumlah yang ada masih sangat kurang."

Terlebih, di tengah perkembangan teknologi, globalisasi dan keberagaman budaya proses assessment sumber daya manusia menjadi suatu hal yang penting. Assessment center diyakini sebagai metode yang memiliki validitas tinggi dalam menilai perilaku sumber daya manusia dan dalam memilih pemimpin berkualitas unggul dan tangguh.

Metode assessment center saat ini digunakan secara luas di instansi pemerintah, perusahaan nasional, dan multinasional dari berbagai industri maupun organisasi di sektor lainnya.

Oleh karena itu, dibutuhkan metode assessment center yang dapat menjawab tantangan era Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity (VUCA) terkait dan mengkaji pemanfaatan assessment center untuk proses indentifikasi sumber daya manusia.

Menurutnya, tantangan sumber daya manusia saat ini yakni perubahan dunia yang sangat cepat. Lalu kesulitan untuk memprediksi kejadian atau peristiwa yang akan terjadi pada masa depan.

"Ada bauran antara isu dengan chaos yang terjadi di organisasi semakin beraneka ragam dan juga kaburnya realitas dengan makna bauran dari berbagai kondisi yang ada. Jadi saat ini tantangan SDM-nya enggak bisa memprediksi apa yang terjadi setahun ke depan karena perubahan dunia ini cepat sehingga diprediksinya setiap bulan," tutur Zilmahran.

Rekomendasi

Terkait