real
        time web analytics

Info

Seribu Satu Alasan Startup Besar Enggan Go Public


TOPCAREER.ID – Dengan nilai valuasi mencapai USD1 miliar, pemerintah kerap meminta para startup yang memiliki pasar yang  cukup besar atau malah perusahaan unicorn untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (go public) melakukan IPO (initial public offering). Namun, berbagai alasan dilontarkan para startup ini. 

Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Rudiantara berpendapat bahwa transparansi menjadi salah satu faktor yang kerap menjadi pertimbangan mengapa mereka masih belum mau melakukan IPO. Rudiantara menyayangkan hal tersebut, dan seharusnya hal itu bukan dijadikan kekhawatiran perusahaan. 

“Transparansi itu lebih banyak pada strategi umum dan keuangan. Inovasi justru disimpan. Apple dan Facebook tidak ada masalah (IPO),” kata Rudiantara dalam peringatan ulang tahun ke-9 Bukalapak di JCC.

Namun, bukan hanya karena transparansi saja alasan para startup ini belum mau go public. Ada beberapa alasan lainnya yang diberikan para perusahaan startup yang sebenarnya sudah siap untuk IPO. 

Bukalapak

President Bukalapak Fajrin Rasyid mengaku bahwa pihaknya masih mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan untuk IPO. Fajrin mengungkapkan memang salah satu hal yang menjadi pertimbangan adalah transparansi seperti yang disebut Menkominfo, Rudiantara. 

Mulai dari keterbukaan laporan keuangan secara detail setiap kuartalnya, ditambah keterbukaan atas keluar masuknya dana perusahaan.  

“Karena selama ini perusahaan tercatat (harus melaporkan kewajiban-kewajiban laporan keuangan dengan rinci), sementara dengan inovasi yang cepat sekali, jangan sampai inovasi ini diketahui banyak orang dan ditiru," ujar Fajrin dalam acara Ulangtahun ke-9 Bukalapak di Jakarta.

Bhinneka

Berbeda dengan Bhinneka yang sebenarnya sudah mempersiapkan diri untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut CEO & Founder Bhinneka Hendrik Tio, Bhinneka bahkan sudah mendaftar ke Bursa Efek Indonesia dan memenuhi persyaratan untuk melakukan IPO.

Namun, alasan yang menyertai Bhinneka hingga akhirnya menunda IPO, yakni lantaran waktu yang belum tepat karena masih dalam masa pemilihan umum (pemilu). Tahun 2019 dianggap belum pas jika ingin go public.

“Jadi sebenarnya kita sudah sangat siap untuk go public tapi kita sedang lihat momentumnya. Kalau tahun ini kayaknya masih tahun politik ya. Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk go public. Mungkin 2-3 tahun ke depan," ucap Hendrik.

Shopee

Meski pangsa pasar Shopee di Indonesia sudah mencapai 40 persen, salah satu perusahaan e-commerce yang jadi favorit masyarakat Indonesia ini masih belum mau sahamnya untuk dijual ke masyarakat umum. 

Komisaris Utama Shopee Indonesia Pandu Sjahrir mengaku bahwa untuk menjadi perusahaan tercatat sebetulnya memang tidak bisa dipungkiri. Apalagi perusahaan induk Shopee, Sea Limited sudah lebih dulu mencatatkan sahamnya di New York Stock Exchange (NYSE).

Tetapi Sjahrir menegaskan, IPO tersebut belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Ia menyampaikan, Shopee masih mempertimbangkan kondisi pasar dan masih berfokus mengembangkan bisnis hingga 9 bulan ke depan.

“Tapi kita juga harus terbuka kalau memang ada kesempatan itu bisa menaikkan value perusahaan, ya kita juga harus lihat. Karena pada akhirnya kita kerja buat seluruh shareholder yang ada,” ucap Sjahrir. 

 

Rekomendasi

Terkait