real
        time web analytics

Info

Siapa Pablo Isla yang Jadi CEO Terbaik Dua Tahun Beruntun


TOPCAREER.ID - Dua tahun berturut-turut, Pablo Isla, CEO Inditex, raksasa fesyen di belakang merek ternama seperti Zara, Massimo Dutti, dan Pull&Bear membawa pulang titel CEO berkinerja terbaik versi Harvard Business Review. Siapa Pablo Isla?

Sejak ditunjuk memimpin Inditex oleh sang pendirinya, miliarder Spanyol Amancio Ortega, pada 2005, Isla telah membawa perusahaan menjadi penguasa jaringan toko pakaian dan aksesoris global. Di bawah kepemimpinan Isla, jumlah toko milik Inditex bertambah dari 2.692 pada 2005 menjadi lebih dari 7.000 toko satu dekade kemudian, seperti dilansir dari Morning Futures.

Selama dua tahun berturut-turut, yakni 2017 dan 2018, Harvard Business Review mendapuknya sebagai CEO terbaik di antara lebih dari 900 pemimpin bisnis yang tersebar di puluhan negara.

Selama belasan tahun bercokol di Inditex, Isla telah membawa nilai pasar perusahaan meningkat berkali-kali kali lipat, terlibat dalam ekspansi global dengan rata-rata membuka satu toko baru sehari, dan menjadikan Inditex sebagai perusahaan Spanyol yang paling berharga.

Sejak mengambil alih Inditex pada 2005, Isla telah mampu memperluas pasarnya dan meningkatkan merek yang dikelolanya menjadi delapan merek yakni Zara, Pull&Bear, Massimo Dutti, Bershka, Stradivarius, Oysho, Zara Home, dan Uterqüe.

Di bawah kepemimpinannya, Inditex mencatat kenaikan pendapatan 11,5% untuk enam bulan pertama 2017. Dilansir Fashion United, Inditex meraih dukungan lokal yang kuat dari Agustus hingga September 2017 untuk peningkatan penjualan 12% dalam platform online dan offline.

Inditex juga dikenal mendukung keberagaman pada tenaga kerja dengan telah memiliki lebih dari 171.000 karyawan di seluruh dunia dari 97 kebangsaan berbeda.

“Ini adalah tim yang memiliki bakat kreatif, standar tinggi yang diberlakukan sendiri, kemampuan untuk bekerja sebagai tim, dan fokus pelanggan yang kuat,” ungkap Isla dalam laman resmi perusahaan.

Didukung oleh kinerja grup perusahaan yang kuat, Isla mengatakan bahwa kreasi nilai adalah kunci keberhasilan mereka.

“Kekuatan dan keberlanjutan dari model toko offline-online terintegrasi perusahaan, tahun demi tahun terus menunjukkan kemampuannya untuk memberikan pertumbuhan,” terang Isla.

Tak hanya menyoroti 'upaya finansial' yang dilancarkan Isla di Inditex, Harvard Business Review melihat kebijakan tanggung jawab sosialnya, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan dan keberlanjutan.

Isla memang menekankan pentingnya keberlanjutan dalam upaya mereka. Perusahaan berkomitmen untuk menghilangkan semua bahan kimia beracun dari rantai pasokan mereka pada 2020.

Perusahaan juga bertekad menerapkan model toko ramah lingkungan yang dapat mengurangi emisi hingga 30% dan konsumsi air hingga 50% pada tahun 2020.

Media sosial juga merupakan bagian besar dari kesuksesan Inditex setelah memiliki hampir 100 juta followers di semua platform mereka.

Menengok perjalanan karier pria berambut keriting ini, Isla sebenarnya bercita-cita menjadi pengacara handal. Lahir pada 22 Januari 1964, Pablo Isla Álvarez de Tejera Isla meraih gelar sarjana hukum di Complutense University of Madrid pada tahun 1987.

Kariernya dimulai di Kementerian Transportasi, Pariwisata, dan Komunikasi Spanyol pada tahun 1988. Dari tahun 1992 hingga 1996, ia menyabet peluang sebagai General Manager untuk urusan hukum di Banco Popular.

Peran penting yang pernah digelutinya kemudian antara lain adalah bagian dari Departemen Warisan Nasional Kementerian Keuangan, Dewan Direksi Logista and Red Eléctrica Corporación S.A., dan Chairman grup perusahaan tembakau Altadis Group sebelum digaet masuk Inditex.

Isla justru terdengar rendah hati dengan segala prestasi yang diraihnya. Karakter ini pula yang digambarkan oleh karyawan perusahaan mengenai gaya kepemimpinan Isla. 

Isla dikenal karena menolak penggunaan hierarki untuk memerintah, mengendalikan, dan mendahulukan ego. Alih-alih, ia mendukung pengambilan keputusan secara informal dalam kemitraan baik dengan rekan maupun karyawannya.

“Sebagai sebuah perusahaan, kami mencoba menjadi perusahaan yang low profile, rendah hati, tentu saja sangat ambisius, tetapi rendah hati. Dan jika kami membuka sebuah toko besar, kami ingin toko itulah yang menjadi hal relevan, bukan orang tertentu.”

Rekomendasi

Terkait