real
        time web analytics

Info

SMK Penyumbang Tertinggi Pengangguran Terbuka, Nah Loh


TOPCAREER.ID –  Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2018 mengungkapkan dari 7 juta pengangguran terbuka, 11,24 persennya merupakan lulusan SMK. Persentase itu lebih tinggi dari pengangguran terbuka lulusan SMA 7,95 persen, lulusan SD 2,43 persen, sedangkan untuk lulusan SMP yang menganggur ada sebanyak 4,8 persen. Hal ini bertolak belakang dengan rencana awal menjadikan lulusan SMK sebagai lulusan yang langsung bisa diserap oleh dunia usaha.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Bambang Brojonegoro mengatakan, fakta itu menunjukkan hal yang ironis. Sebab awalnya lulusan SMK justru diharapkan bisa langsung terserap oleh industri setelah lulus. "Ini sangat ironis," ujarnya dalam sebuah acara seminar belum lama ini.

Sementara Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri menyebut adanya kecenderungan penurunan kontribusi lulusan SMK kepada tingkat pengangguran. Pada 2015, persentase lulusan SMK yang menganggur 12,65 persen, pada 2016 turun jadi 11,11 persen, 2017 naik 11,41 persen dan 2018 jadi 11,24 persen.

Meski begitu keduanya mengakui secara umum, masih banyak persoalan yang dihadapi oleh setiap lulusan jenjang pendidikan, termasuk lulusan SMK untuk masuk ke dunia kerja.

Menteri Bambang menilai ada yang perlu diperbaiki dari SMK di Indonesia.  Kebanyakan SMK yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan pasar atau kebutuhan dunia usaha. Akibatnya lulusannya jadi tak terserap.

Bila ditelaah lebih dalam, Bambang menyoroti beberapa hal. Pertama soal kurikulum. Ia mengatakan, kurikulum SMK yang lambat menyesuaikan perkembangan.

Bambang menilai hal itu terjadi akibat adanya ego sektoral. "Harus saya akui kadang mereka mengatakan tidak mudah mengubah kurikulum. Akibatnya kita selalu terlambat. Begitu terlambat, kita menciptakan pengangguran terdidik. Seperti kasus lulusan SMK tadi," kata dia.

Bambang menyoroti banyaknya SMK di Indonesia milik swasta namun kapasitasnya kecil. Yayasan pengelola SMK tidak punya kapasitas untuk pengembangan guru, apalagi pengembangan kurikulum yang melibatkan perusahaan.

Akibatnya, SMK lebih banyak mencetak lulusan, bukan mencetak tenaga kerja. Ketiga, persolan guru. Bambang mendapatkan informasi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bahwa tak banyak guru produktif atau guru yang ahli sesuai bidang kejuruan di SMK tersebut.

"Persentasenya sama bahkan kalah dengan guru normatif. Guru normatif itu guru agama, guru bahasa, guru untuk pelajaran yang bukan inti dari SMK itu," kata dia.

Untuk mengurai satu per satu akar masalah itu, pemerintah pusat  bersama Pemda kata Bambang, sudah memulai melakukan terobosan.  Di antaranya mendirikan SMK-SMK percontohan di beberapa daerah. SMK percontohan fokus kepada kebutuhan tenaga kerja di daerah tersebut. 

Misalnya SMK yang fokus ke industri furniture lantaran daerahnya memiliki keunggulan di bidang usaha furniture. Sementara terkait dengan keterbatasan guru produksi, pemerintah akan menarik lebih banyak tenaga ahli di bidangnya untuk mengajar atau menjadi instruktur di SMK.

"Banyak orang yang tidak hanya pensiunan, tetapi orang yang sudah bekerja di bidangnya tetapi mau jadi instruktur," kata dia.

Menteri Hanif melihat pentingnya memperbaiki akses dan mutu vokasional training bagi siswa SMK. Ketiga hal itu yakni kualitas, kuantitas dan persebaran yang merata. Dari sisi kualitas, Hanif menilai lulusan SMK maupun SDM Indonesia pada umumnya memiliki hal itu.

Buktinya kata dia, para pelajar Indonesia kerap berjaya di berbagai ajang olimpiade pendidikan. Justru kata Hanif, persoalan ada pada kuantitas. SDM yang memiliki kualitas jempolan masih terbatas. Selain itu persebaranya juga hanya terpusat dibeberapa kota.

Oleh karena itu, vokasional training harus diperbanyak dan tersebar di berbagai daerah. Hal ini juga penting sembari menunggu perbaikan di SMK.