real
        time web analytics

Info

Stres Tinggi Sudah Hampiri Calon ATC Sejak Masa Sekolah


TOPCAREER.ID – Jika ingin terjun sebagai petugas Air Traffic Controller (ATC) di industri penerbangan, maka harus siap dengan risiko stres yang tinggi. Apalagi jika harus ditempatkan di bandara yang memiliki traffic atau lalu lintas yang ramai. Bahkan, stres itu bisa datang sejak masa pendidikan di sekolah aviasi. 

Tuntutan untuk bisa meng-handle beberapa pesawat dalam satu waktu dan membuat keputusan cepat dengan tingkat akurasi tinggi membuat seorang petugas ATC rentan akan stres. Terlebih keputusannya itu menyangkut nyawa ratusan bahkan ribuan orang.  

Hal itu juga diakui oleh Budi Hendro Setiyono, Kepala Sekolah Indonesia Aviation School (IAS) yang sudah berpengalaman puluhan tahun bekerja sebagai ATC. Budi mengatakan ada beberapa kasus yang ia temui, yakni siswa yang sudah mengalami stres saat masa pendidikan.

“Ada satu anak yang setiap pelajaran lab dia enggak mampu dan daripada tiap ada pelajaran lab dia stres, jadi mengundurkan diri,” kata Budi kepada TopCareer.id beberapa waktu lalu.  

Budi menambahkan, saat di IAS sendiri, ada masa praktik selama 4 bulan di mana para siswa akan belajar meng-handle arus penerbangan dengan lalu lintas yang padat. Uji praktik itu dikondisikan seolah para siswa berada di bandara berhadapan dengan kepadatan arus lalu lintas udara. 

Nah, saat sesi praktik itu, ada kalanya siswa sudah membayangkan kepadatan arus lalu lintas udara yang sebenarnya. Membayangkan betapa bahwa ia akan dihadapkan dengan tanggung jawab ribuan nyawa berada di bawah panduannya. 

“Karena ya itu, dia sudah bayangin ini pesawat beneran. ‘Gimana kalau saya nabrakin,’ gitu. Jadi mau ngomong aja enggak bisa. Dia mungkin jago komunikasi, tapi disuruh ngomong bahasa Inggris mikir dulu, kelamaan mikir,” ujar Budi.

“Kelamaan mikir itu enggak bisa. Jadi ATC itu harus cepat, tepat, akurat. Jadi ATC itu enggak boleh salah. Makanya diajarin dulu sebelumnya bagaimana ambil keputusan cepat dan tepat.”

Apalagi, ketika mendengar bahwa satu petugas ATC bisa saja menghandle 14 pesawat dalam satu waktu. Tentu akan hadir dalam benak bahwa ribuan nyawa ada di tangan. Betapa mengerikannya membawa tanggung jawab sebesar itu.

Padahal setelah lulus dan masuk AirNav, penugasan akan diberlakukan sesuai kemampuan, sehingga akan dimulai dari bandara dengan traffic sepi. Penempatan ATC di tiap wilayah pun ada ujiannya sehingga tidak sembarangan penugasannya untuk tiap orang.   

“Yang paling muda ditempatkan daerah dulu yang trafficnya sepi, baru pindah ke traffic yang agak ramai. Lagian untuk pindah tugas itu kan diuji dulu 3 bulan, untuk latihan. Setelah diuji kira-kira lulus atau enggak nih. Kalau enggak lulus dibalikin lagi,” ucap Budi yang bekerja sebagai ATC sejak 1978.