TopCareerID

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Indonesia Butuhkan 5 Kali Tenaga IT

Topcareer.id – Salah satu tantangan Indonesia menyambut Revolusi Industri 4.0 adalah kesiapan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi yang dirasa belum memadai baik secara kuantitas maupun kualitas. Berdasarkan data keluaran Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) nasional 2017 masih rendah yakni di level 4,99 dari skala 1-10.4

Sedangkan di tingkat global, Indonesia berada di urutan ke-45 dari 140 negara atau ke-4 di wilayah Asia Tenggara di dalam daftar The Global Competitiveness Report 2018 keluaran World Economic Forum. Di sisi wirausaha, Indonesia disebutkan baru memiliki pengusaha sebanyak 1,65% dari populasi jumlah penduduk dan diperkirakan hanya sekitar 0,43% di antaranya berbasis teknologi atau technopreneur.

Sementara menurut perusahaan riset A.T. Kearney, sektor pendidikan di Indonesia hanya mampu menghasilkan 278 insinyur IT dari setiap 1 juta penduduk. Angka lulusan tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia yang mencetak 1.834 insinyur IT dan India yang mencetak 1.159 insinyur IT dari setiap 1 juta penduduk. Riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan 5 kali lebih banyak insinyur IT dalam 10 – 15 tahun ke depan untuk mendukung perkembangan ekonomi digital.

“Diperlukan pendidikan dan pelatihan yang tepat untuk mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing di Revolusi Industri 4.0. Pemaparan beragam materi di dalam konferensi PGConf.ASIA 2019 akan memberikan peningkatan wawasan dan keahlian profesional bagi para peserta,” kata Ketua PGConfAsia, Julyanto Sutandang dalam acara Konferensi Asia Postgresql (Pgconf.Asia) 2019.

“Konferensi ini digelar sebagai bagian dari bentuk tanggungjawab kami dalam membangun solusi dan ekosistem berkelas enterprise di pasar tanah air berbasiskan software Open Source”, jelasnya dalam siaran pers yang diterima Topcareer.id.

“Pemerintah akan mendorong pengembangan aplikasi berbasis open source. Ada perusahaan seperti Bank BRI yang secara masif menggunakan open source. Namun demikian, pengembangan open source harus senantiasa didorong dan dipromosikan bersama baik itu oleh pemerintah, korporasi, NGO atau organisasi manapun yang ingin mengembangkan sistem database berdasarkan PostgreSQL,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara dalam video sambutannya di acara Konferensi Asia Postgresql (Pgconf.Asia) 2019 yang berlangsung di Grand Inna Bali Beach, Sanur, Bali, Senin (9/9/2019)

Untuk pertama kalinya Konferensi Postgresoql tingkat Asia digelar di Indonesia mengusung tema “Saat bisnis bertemu hacker”. Konferensi yang menghadirkan 30 pembicara dari negara-negara seperti Jepang, Jerman, Korea, USA, Perancis, Pakistan, India, Rusia, dan Indonesia berlangsung tanggal. Konferensi ini menjadi ajang bagi para pengguna, pengembang, dan para ahli PostgreSQL untuk saling berbagi pengalaman.

PostgreSQL merupakan raja database open source yang dapat digunakan sebagai alternatif utama dalam dunia bisnis. Telah banyak perusahaan kelas menengah hingga atas yang menggunakan Open Source Database Management System (OSDBMS) PostgreSQL seperti perusahaan perbankan, telekomunikasi, ritel modern, dan instansi pemerintah.

Perhelatan PGConf ASIA 2019 di Indonesia, selain untuk melakukan interaksi antara hacker dan bisnis enterprise, diharapkan ekosistem PostgreSQL dan Open Source dapat bertumbuh di Indonesia. Yang dapat menguntungkan bisnis enterprise sebagai pasar dan akademisi yang menghasilkan sumber daya IT terbaik di tanah air.

Exit mobile version