TopCareerID

Cara Jawab `Kenapa Kamu Dipecat?` Saat Wawancara Kerja Baru

Topcareer.id Wawancara kerja di calon tempat kerja baru terkadang bisa bikin tegang. Apalagi bila alasan kamu berhenti kerja di perusahaan sebelumnya akibat kamu dipecat. Salah jawab, bisa-bisa calon majikan baru batal merekrutmu.

Lalu, bagaimana memberi jawaban yang baik bila ditanya pewawancara soal alasan pemecatanmu?

Paling baik, menyiapkan jawabannya bila muncul pertanyaan tersebut saat wawancara. Berlatihlah. Melatih diri dengan jawaban terbaik yang kamu siapkan akan membuatmu takkan gugup bila ditanya soal itu.

Berikut ini beberapa tips dari Careerbuilder untuk menjelaskan kenapa kamu sampai dipecat dari perusahaan terdahulu.

Jawab dengan jujur
Ceritakan kejadian kenapa sampai kamu dipecat dengan cara objektif. Apa kamu diberhentikan karena konflik dengan rekan kerja? Bicara jujur akan memberi pandangan bagi calon majikan soal peranmu di insiden itu. Apa kamu dipecat karena gagal mencapai target yang ditentukan? Tanya diri lagi apa hal itu terjadi karena kamu kurang kerja keras atau kamu kurang mendapat kesempatan yang sama dengan karyawan lain. Sebelum kamu menjawab pada calon bos baru, kamu harus jujur pada diri sendiri dahulu.

Saat menceritakan alasan pemecatan kamu jangan menyamarkannya sebagai situasi yang tak serius. Bahkan bila kamu pindah ke kota lain untuk memulai karier baru, calon bos niscaya bakal tahu alasan sesungguhnya. Katakan dengan baik, sesuai fakta dan jujur.

Jangan jelekkan bos lama
Wawancara kerja baru berarti juga kamu sedang melamar masuk ke tim baru. Salah satu yang memberi peringatan bagi calon majikan adalah menjelekkan majikan terdahulu.

Jangan juga menceritakan gosip kantor lama kamu, baik bosnya atau mantan rekan kerjamu. Selain menunjukkan kamu belum dewasa dan berperangai buruk, hal tersebut juga membuatmu bisa dianggap tukang adu domba.

Jangan alamatkan kesalahan ke orang lain
Selain menjelekkan kantor lama, menyalahkannya juga bukan langkah baik. Calon majikan ingin melihat bagaimana kamu mengambil tanggung jawab atas kesalahanmu di masa lalu dan hasil kerjamu dahulu. Betapapun kamu merasa diperlakukan tak adil, kamu tetap harus menerima konsekuensinya.

Fokus pada poin yang ditanyakan
Kesalah besar ketika kamu menjawab pertanyaan dengan cerita detil kejadiannya berikut setiap bumbu-bumbunya. Jangan habiskan lima menit untuk menceritakan suasana kantor yang membuatmu dipecat. Langsung ke pokok masalah dan ceritakan dengan sederhana.

Jika kamu dipecat karena sering tidak masuk kerja, jangan ceritakan soal nenek yang sakit atau ada janji rutin dengan dokter yang membuatmu tak masuk kantor. Katakan saja, “Saya memiliki urusan pribadi yang membuat saya tak bisa ke kantor. Tapi sekarang itu bukan masalah lagi, sekarang saya siap bekerja sesuai jadwal kerja yang ditentukan.”

Jangan terlihat kecewa
Kamu akan terlihat tak menarik bila calon majikan melihatmu kecewa dan lesu seperti orang yang kalah perang. Meski bos kamu yang dulu salah melepasmu, menunjukkan kekecewaan saat wawancara kerja baru malah bikin situasi makin buruk.

Jangan gunakan bahasa yang kian menenkankan kegagalanmu terdahulu. Bicara seolah hal itu hanya memberi efek minimal pada diri kamu.

Jelaskan pelajaran apa yang kamu ambil
Jawaban yang menunjukkan kamu mengambil pelajaran dari pemecatan kamu menunjukkan pada calon majikan kalau kamu mawas diri dan siap beradaptasi. Hal ini membuat hal negatif menjadi aset. Hal itu menunjukkan pada calon majikan bahwa kamu bersikap objektif dan telah belajar dari kesalahan yang dulu dibuat.

Promosikan sisi positif
Memang sulit mencari sisi positif dari kabar sebuah pemevatan. Tapi bukan berarti tak bisa. Coba belokkan topik dengan anggun menjadi soal pengalaman dan kemampuanmu.

Cobalah pakai kalimat ini: “Saya menyesal harus pergi dari perusahaan X; namun saya belajar membuat aplikasi di sana, yang saya rasa akan berguna di perusahaan Bapak.”

Berlatih membuat jawaban jadi bagus
Dipecat dari perusahaan adalah sebuah pengalaman yang emosional. Sulit untuk bersikap objektif dan bicara dengan tenang bahkan setelah berbulan-bulan kena PHK. Berlatih menyiapkan jawaban terbaik akan membuatmu terpeleset mengeluarkan emosi saat wawancara kerja.

Mulai dengan menuliskan kenapa kamu dipecat. Tinggalkan tulisan itu, lalu baca dua-tiga hari kemudian. Kalau kamu puas dengan jawaban yang kamu tulis, bacakan pada teman atau anggota keluarga yang mampu bersikap objektif.

Begitu kamu sudah puas dengan jawaban yang kamu buat, berlatih melisankannya depan cermin. Saat kamu merasa nyaman, resapi jawaban itu. Maka kamu akan bicara dengan natural, tak terlihat mengada-ada atau emosional, soal pemecatanmu.**

Exit mobile version