TopCareerID

Cerita Pengalaman Salat Jumat Pertama di Masa New Normal Covid-19

Ilustrasi. (dok. The National)

Topcareer.id – Bagi kebanyakan umat muslim Jakarta dan Bodetabek, hari ini, 5 Juni 2020, adalah kali pertama menunaikan shalat Jumat setelah lebih dari dua bulan masjid-masjid ditutup demi mencegah tertular Covid-19.

Masjid Nurul Iman dekat rumah saya di Cimone, Tangerang, Banten juga menggelar salat Jumat seiring pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menuju kehidupan new normal. PSBB di Tangerang Raya (mencakup Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Tangerang Selatan) sendiri diperpanjang hingga 15 Juni.

Namun, roda ekonomi relatif telah berjalan seperti sedia kala. Pasar-pasar tradisional telah dibuka. Kebanyakan penjual dan pembeli menggunakan masker. Namun, ada juga orang yang tak pakai masker ketika berbelanja.

Baca juga: Mau Shalat Jumat? Jangan Lupa Bawa Perlengkapan Sendiri dan Jaga Jarak

Terkait salat Jumat di awal PSBB masa transisi menuju new normal banyak kebiasaan baru yang sebelumnya tak ada. Satu jam sebelum waktu azam, dari pengeras suara masjid terdengar pengurus mengumumkan protokol kesehatan yang wajib dilakukan setiap jamaah saat salat Jumat.

Dikatakan, sebelum ke masjid, jamaah diwwajibkan mengenakan masker dan membawa sajadah sendiri dari rumah. Sebelum masuk masjid, ada pengecekan suhu. Saya berangkat ke masjid bersama anak yang berusia 6 tahun. Sebetulnya, anak-anak boleh tak ikut salat ke masjid. Tapi saya tetap mengajaknya. Dan pengurus masjid tetap membolehkannya masuk.

Masjid dekat rumah sudah diatur agar setiap jamaah menjaga jarak. Lakban hitam sebagai penanda dipasang bergaris-garis memisahkan setiap jamaah kira-kira satu meter. Afdal-nya memang disunahkan merapatkan barisan shaf salat. Namun, demi mencegah penyebaran wabah ulama sedunia sepakat setiap jamaah agar menjaga jarak.

Salat sesuai nomor

Kenormalan baru model begini harus kita terima. Sebab, dalam agama sendiri keselamatan manusia lebih didahulukan daripada ibadah.

Dok. Twitter @abcdemdeka

Di masjid-masjid lain pengawasan protokol kesehatan lebih ketat daripada di dekat rumah saya. Dari pantauan di Twitter, misalnya, ada seorang netizen mengunggah foto berisi kertas bertuliskan nomor shaf salat.

Tampaknya, setiap orang yang akan masuk masjid diberi nomor, dan di nomor itu ia harus sembahyang. Mirip tiket bioskop yang bertuliskan nomor kursi.

Sekali lagi, new normal macam begitu harus kita terima dengan lapang dada. Sambil kita berdoa semoga badai Covid-19 ini segera berlalu dan kita bisa beribadah dengan tenang di masjid, gereja, wihara, atau pura dengan aman, nyaman dan khusyu. *

Exit mobile version