TopCareerID

Keluh Kesah Perawat di Masa Pandemi yang Tak Terelakkan

Restya Wisundari

Topcareer.id – Perawat sebagai tenaga kesehatan, jadi garda terdepan ketika pandemi Covid-19 menyerang seluruh negara dunia. Semenjak Covid-19, hampir setiap unit kesehatan kewalahan dengan pasien yang membawa virus. Keluh kesah perawat kesehatan pun tak bisa terelakkan.

Dengan tingkat pasien Covid-19 yang seringnya bikin kewalahan, ditambah ‘kostum’ kerja yang tak bisa dibilang biasa, seorang perawat atau tenaga medis berjuang lebih keras dalam menjalankan profesinya.

Restya Wisundari, seorang perawat di Prodia Laboratorium menyampaikan bahwa semenjak Covid-19, banyaknya pasien sebenarnya jadi kabar yang cukup bahagia meski konsekuensinya termasuk risiko terpapar virus itu sendiri.

“Nahan kencing iya, capek iya, terus ngatur minum iya, bolak-balik punggung sakit karena kurang minum iya, tapi kan kita nggak boleh ngeluh karena bisa bikin stres, jadi ya ikutin aja, yang penting kita tetap jaga kesehatan, orang lain juga tetap sehat,” kata Restya saat diwawancarai Topcareer.id, Minggu (26/7/2020).

Baca Juga: Perawat RSPI Cerita Pengalaman Tangani Pasien Covid-19

Dulu, ia sempat marasa bahwa menjadi perawat adalah profesi yang sangat melelahkan lantaran begitu banyak hal yang diurus, memerhatikan banyak hal sekaligus. Namun, setelah ada Covid-19 ia malah sadar bahwa ia begitu mencintai pekerjaannya dan bersyukur atas profesinya itu.

“Setelah banyak Covid-19, banyak juga orang putus hubungan kerja. Saya cukup bersyukur, saya tetap jadi perawat. Ya, walaupun capek, walaupun banyak pasiennya, walaupun susah mau makan, tetap kerja dan bersyukur,” ujar dia.

Ia pun bercerita soal ‘kostumnya’ yang digunakan saat sehari-hari kerja ketika Covid-19 mulai menyerang Indonesia. Saat awal-awal Covid-19, perawat di unit kesehatannya belum terlalu aware dengan penggunaan hazmat demi melindungi diri dari virus.

Hanya berbekal masker dan jas lab, Restya dan tenaga kesehatan lainnya menjalankan pekerjaan seperti biasa. Namun, saat kasus Covid-19 mulai menunjukkan peningkatan kasus, barulah saran penggunaan hazmat itu perlahan diaplikasikan.

“Awal-awal itu bukan hazmat, kita  masih pakai jas hujan, cuma kita pakai tutup kepala, pakai hair cup itu, masker, udah itu saja. Sama helm untuk sample, itupun juga helm faceshield kondisi masih pinjem. Barulah lama-lama ada volunteer, donatur yang ngasih, lalu beli,” jelas dia.

Ia juga mengalami memakai hazmat yang bahannya panas, lebih sering membuat tak nyaman. “Hazmat baru panas, tebal, sampai baju yang kita pakai itu kering, basah, kering lagi di badan.”ungkapnya. **(RW)

Exit mobile version