TopCareerID

Modifikasi Layanan Kereta Api, Agar Bisa Menerapkan Protokol Kesehatan Lebih Optimal

Topcareer.id – Jumlah penumpang PT Kereta Api Indonesia (KAI) akibat pandemi virus corona sempat menurun tajam. Jika dibandingkan dalam kondisi normal tahun lalu kereta api bisa mengangkut sekitar 439 juta penumpang dalam setahun. Terdiri dari angkutan commuter line dan penumpang antar kota di jawa dan sumatera.

Untuk perhitungan per harinya dalam kondisi normal bisa mengangkut kira-kira 210 ribu penumpang sehari pada tahun 2019 lalu, dan penumpang commuter line bisa mencapai 1 juta per hari.

Pendemi COVID-19 telah membuat KAI mengalami titik terendahnya yang terjadi pada Mei 2020 lalu, penumpang kereta api jarak jauh yang jumlah normalnya bisa mencapai hingga 200 ribuan penumpang per hari, saat PSBB diberlakukan pada bulan Mei akibat pandemi virus corona dalam sehari kereta api hanya melayani penumpang sebanyak 62 orang saja.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Naik Kereta Api Masih Tergolong Aman

Atas kondisi ini KAI tidak tinggal diam dan segera melakukan modifikasi layanan, hal ini merupakan kreativitas dari PT KAI. Maqin U. Norhadi dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) pada Workshop: Industri Transportasi Publik 3 September 2020, mengatakan “Tahun lalu KAI mengedepankan hospitality, dimana kereta api melayani penumpang dengan ramah dan tepat waktu. Tentunya di era pandemi ini hospitality saja tidak cukup.” ujar Maqin.

Menurutnya saat ini masyarakat tidak hanya memerlukan kenyamanan tetapi juga memerlukan jaminan keselamatan dan kesehatan penumpang. KAI sekarang fokus pelayanannya tidak hanya hospitality saja, namun juga harus menjamin kesehatan dan keselamatan penumpangnya sampai tujuan.

Melihat hal ini KAI pun menerapkan protokol adaptasi kebiasaan baru untuk bisa mengakomodasi kebutuhan penumpang akan kebutuhan kesehatan dan keselamatan.

Secara garis besar KAI melakukan protokol kesehatan berupa pencucian gerbong kereta menggunakan disinfektan, sebelum kereta diberangkatkan, selama kereta dalam pemberangkatan dimana petugas setiap 30 menit melakukan pembersihan dengan disinfektan, sampai kereta tersebut tiba ditujuan kembali dilakukan pembersihan menggunakan disinfektan lagi.

Untuk para calon penumpang, KAI juga melaksanakan disiplin antri di stasiun, disediakan tempat cuci tangan di stasiun, calon penumpang yang akan masuk stasiun tidak boleh sakit. “Jadi kalo dia sakit kita tolak tidak boleh masuk stasiun, harus memiliki suhu dibawah 37.3 derajat celsius, kalau di atas itu tidak boleh masuk stasiun, jika penumpang dalam kondisi flu atau batuk juga ditolak masuk stasiun, sejak awal kita sudah tolak.”kata Maqin.

Syarat untuk naik kereta harus menjalani rapid test dan hasilnya harus non reaktif. KAI mendukung hal ini dengan menyediakan fasilitas rapid tes dengan harga yang sangat terjangkau bahkan lebih murah daripada di puskesmas atau faskes lain. Jadi para calon penumpang setelah booking tiket, sebelum naik kereta api, penumpang harus menunjukkan surat rapid tes.

Setelah penumpang memenuhi persyaratan untuk masuk kereta, selanjutnya KAI membagikan face shield sebagai bagian dari layanan kesehatan yang disediakan oleh KAI.

Saat ini KAI juga hanya melayani pembelian tiket secara online melalui platform digital KAI Access dan platform mitra. Boarding tiket juga dilakukan penumpang melalui online boarding.

Rangkuman dari apa yang disampaikan Maqin U. Norhadi dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) tentang protokol kesehatan pada moda transportasi kereta api adalah:

Exit mobile version