Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Friday, November 27, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Di Masa Pandemi, Kinerja Perdagangan Indonesia Tunjukkan Tren Positif

Warga sedang berbelanja di sebuah supermarket di masa pandemi Covid-19. Foto: Topcareer.id/Wulan

Topcareer.id – Berdasar laporan dari Kementerian Perdagangan, surplus perdagangan Indonesia alami tren yang meningkat pada periode Mei hingga September 2020. Meski di masa pandemi Covid-19, ekspor sejumlah komoditas bahkan angkanya tampak melejit.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, secara kumulatif, neraca dagang Januari—September 2020 mencapai USD13,5 miliar. Nilai tersebut melampaui neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan pada 2017 dan merupakan capaian tertinggi sejak 2012.

“Beberapa komoditas juga tumbuh positif selama pandemi ini, antara lain barang tekstil jadi lainnya, besi dan baja, serta logam mulia/perhiasan,” kata Menteri Agus dalam keterangan persnya, Senin (9/11/2020).

Baca Juga: Sejumlah Komoditas Produk Pertambangan Tunjukkan Tren Positif

Lebih lanjut Menteri Agus mengatakan, komoditas ekspor Indonesia lainnya yang juga tumbuh adalah alat pelindung diri (APD). Nilai ekspor APD, termasuk masker, di masa pandemi ini telah mencapai USD192,5 juta.

“Kami yakin nilai tersebut akan terus meningkat. Tidak hanya hingga akhir 2020, namun sampai beberapa tahun ke depan. Hal ini disebabkan tingginya kasus positif Covid-19 di sejumlah negara,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, penerapan protokol kesehatan yang ketat di seluruh dunia juga menciptakan peluang cukup besar untuk produk APD Indonesia.

Sementara, untuk bulan September 2020, beberapa komoditas utama ekspor nonmigas Indonesia yang mengalami kenaikan adalah besi dan baja, lemak dan minyak hewan/nabati, kendaraan dan bagiannya, mesin dan perlengkapan elektrik, plastik dan barang dari plastik, serta beberapa komoditas sektor pertanian dan industri.

Peningkatan nilai ekspor besi dan baja disebabkan meningkatnya permintaan dari Tiongkok dan Malaysia karena mulai pulihnya industri dalam negeri di kedua negara.

Baca Juga: Pandemi Usai, Tren Belanja Pangan Via Online di Asia Tenggara Bakal Lanjut

Menurut Menteri Agus, peningkatan ekspor produk lemak dan minyak hewan/nabati diakibatkan naiknya harga minyak kelapa sawit di pasar internasional dan naiknya permintaan dari Tiongkok dan India.

Di masa pandemi ini, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang masih menjadi negara utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia. Untuk periode Januari—September 2020, nilai ekspor nonmigas ke beberapa negara justru mengalami kenaikan, yaitu ke Tiongkok (naik 11 persen), Amerika Serikat (2,9 persen), Swiss (228,1 persen), Australia (13,4 persen), Pakistan (13 persen), dan Italia (1,2 persen).

Untuk mendorong ekspor, Kementerian Perdagangan juga terus melakukan berbagai kegiatan promosi selama masa pandemi.

“Beberapa upaya promosi yang dilakukan antara lain fasilitasi penjajakan kesepakatan dagang (business matching) secara virtual melalui 46 perwakilan perdagangan di 31 negara, penyelenggaraan Trade Expo Indonesia Virtual Exhibition (TEI-VE) pada 10—16 November 2020, dan mengikuti Expo 2020 Dubai pada 1 Oktober 2021—1 Maret 2022,” jelas Mendag.

Selain itu, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi perhatian utama Kementerian Perdagangan. Agar pelaku UMKM dapat bertahan, Kemendag telah melakukan berbagai langkah strategis.

Di antaranya dengan mendorong program percepatan ekonomi lokal untuk sektor UMKM melalui program Bangga Buatan Indonesia (BBI) bersama kementerian/lembaga terkait. Kemendag juga melakukan promosi produk pernik-pernik unik Indonesia, meluncurkan situs https://bbi.kemendag.go.id/.**(RW)

Leave a Reply