Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Jumat, April 23, 2021
redaksi@topcareer.id
Sekolah

Saran Pakar UGM Agar Pembelajaran Tatap Muka Berjalan Baik di Masa Pandemi

Foto Ilustrasi

Topcareer.id – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) kukuh untuk tetap mengadakan pembelajaran tatap muka di masa pandemi ini sebagai opsi. Bahkan, ditargetkan pembelajaran tatap muka bisa dilakukan pada Juli 2021.

Pakar Kebijakan Publik UGM, Agustinus Subarsono sependapat dengan Mendikbud, dan perlu disambut dengan persiapan yang matang. Ia menilai dengan pembelajaran tatap muka lebih menguntungkan dibanding secara daring. Dari kajian yang pernah ia lakukan persepsi siswa jauh lebih mudah pembelajaran dengan tatap muka.

“Apapun rumusnya tatap muka lebih menguntungkan, tapi karena darurat, daring ya dinilai sebagai solusi tepat daripada tidak sekolah sama sekali,” kata Subarsono mengutip pers rilis, Selasa (23/3/2021).

Ia lantas memberikan beberapa saran teknis terkait pembelajaran tatap muka yang direncanakan pada Juli 2021 nanti. Pertama, kata dia, yang perlu dilakukan sekolah adalah menata ruang sekolah, terutama ruang kelas. Karena masih pandemi, kapasitas siswa masuk kelas tidak boleh sama seperti di saat sebelum pandemi.

Sehingga pertanyaan yang muncul kemudian apakah ruang kelas akan cukup jika semua siswa dalam satu sekolah masuk dalam waktu yang bersamaan, sebab dalam satu ruang nantinya hanya dapat diisi sepertiga (1/3) atau separuh (1/2) saja.

“Jika ternyata tidak dapat masuk bersamaan, cara bergantian bisa dipakai sebagai solusi. Itu pendapat saya, jika ruang kelas tidak memenuhi maka dalam seminggu ada 5 hari atau 6 hari pembelajaran, bisa saja masuk 3 hari dan 3 hari di rumah,” jelasnya.

Di samping itu, durasi pembelajaran di kelas nantinya harus dibedakan dengan kondisi sebelum pandemi Covid-19. Jika sebelum pandemi Covid -19 jam belajar 07.30 – 13.00 maka untuk pembelajaran tatap muka bulan Juli 2021 nanti cukup sampai 11.30.

“Menyangkut durasi yang lamanya mungkin 45 menit atau 40 menit perlu diperpendek, agar siswa tidak terlalu lama di sekolah, sebab kepala sekolah dan guru-guru juga mengalami kesulitan dalam mengontrol interaksi di antara mereka di sekolah,” terangnya.

Baca juga: Daftar 20 Negara Paling Bahagia di Dunia

Soal vaksin, menurut Subarsono jika itu bisa dilakukan jauh lebih baik karena soal vaksin ini pemerintah sudah mengagendakan dengan prioritas para tenaga kesehatan, lansia dan lain-lain.

Belum lagi, ini menyangkut ketersediaan vaksin yang ada meskipun pemerintah daerah hanya menerima distribusi dari pemerintah pusat sehingga perlu hitung-hitungan kembali apakah pemerintah pusat dapat mendistribusikan jumlah vaksin berdasarkan jumlah siswa untuk tiap-tiap kabupaten/kota.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian, lanjut Subarsono, di saat program pembelajaran tatap muka adalah upaya mengurangi kerumunan atau mobilitas. Semua siswa harus membawa makanan dan minuman sendiri supaya mereka tidak membeli di kantin yang mungkin menimbulkan kerumunan.

Selanjutnya, pemberian pemahamanan kepada orang tua agar anak yang ke sekolah langsung menuju sekolah. Selepas sekolah mereka juga diharapkan langsung pulang ke rumah tanpa mampir, semisal toko, mal atau main ke rumah teman.

“Itu akan lebih aman sehingga orang tua harus mengontrol jam berapa keluar dari sekolah, dan kira-kira sampai rumah jam berapa? Sehingga siswa dari rumah langsung menuju sekolah dan dari sekolah langsung menuju rumah, pulang langsung,” terangnya.

Terkait fasilitas protokol kesehatan di sekolah, Subarsono meyakini, itu kewajiban yang harus dipenuhi masing-masing sekolah. Tiap sekolah sekolah harus menyediakan tempat cuci tangan dengan sabunnya dan lain-lain, dan Dinas Pendidikan diharapkan melakukan inspeksi sebelum kegiatan tatap muka dibuka.

Tinggalkan Balasan