Topcareer.id – Vaksin COVID-19 masih efektif untuk mencegah rawat inap tetapi efektivitasnya terhadap infeksi baru dari varian Delta telah menurun.
Hal ini mengacu pada penelitian baru di Amerika Serikat yang diterbitkan pada hari Rabu (18/8) dalam Morbidity and Mortality Weekly Report.
Tak satu pun dari penelitian dapat mengatakan apakah infeksi terobosan itu disebabkan oleh berkurangnya kekebalan, berkurangnya perlindungan terhadap varian Delta, atau kombinasi beragam faktor.
Namun, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengumumkan bahwa vaksin booster COVID-19 akan tersedia untuk semua orang AS mulai September.
Menurut penelitian fasilitas perawatan jangka panjang AS, efektivitas vaksin terhadap infeksi SARS-CoV-2 ringan atau berat turun.
Penurunannya menjadi 53,1% pada akhir Juni hingga awal Agustus dari 74,7% sebelum varian Delta menjadi dominan.
Sebuah studi yang dilakukan oleh pejabat kesehatan Negara Bagian New York juga mendapati penurunan efikasi vaksin.
Vaksin untuk mencegah infeksi baru turun dari 91,7% menjadi 79,8% antara awal Mei dan akhir Juli.
Baca juga: Studi: Efikasi Vaksin Moderna Capai 93% dalam 6 Bulan setelah Dosis Kedua
Namun, kemanjuran vaksin COVID-19 yang tersedia masih mampu mencegah rawat inap tetap di atas 90%.
Sementara itu penelitian dari 18 negara bagian di AS menemukan hasil perlindungan dari rawat inap setelah vaksinasi berlangsung setidaknya enam bulan.
Ditemukan juga bahwa 24 minggu setelah vaksinasi penuh dengan vaksin mRNA, kemanjurannya hanyalah 84%, dan bisa mencapai 90% hanya pada orang dewasa tanpa kondisi immunocompromising.**(Feb)