TopCareerID

3 Langkah Tingkatkan Keterlibatan Perempuan di Tempat Kerja

Kepemimpinan perempuan sebagai eksekutif dalam perusahaan.

Topcareer.id – Di tengah pertumbuhan sektor financial technology (fintech) yang semakin pesat, perempuan masih belum sepenuhnya mendapatkan kesempatan berkarier yang setara.

Realita itu diakui juga oleh Claudia Kolonas, Co-Founder startup investasi multi-aset Pluang pada acara “Women in Fintech: Empowering the Next Generation Forum” di Mandarin Oriental Jakarta.

Claudia percaya bahwa industri dan lingkungan kerja yang lebih inklusif terhadap keterlibatan perempuan dapat mengoptimalkan potensinya di bidang profesional.

“Pesatnya pertumbuhan Pluang menjadi platform investasi multi-aset tentunya tidak terlepas dari dukungan dan kepercayaan terhadap saya sebagai seorang perempuan pendiri startup,” kata Claudia dalam siaran pers yang diterima Topcareer.id, Jumat (12/8/2022).

“Sayangnya, banyak talenta perempuan di sektor fintech yang merasa belum mendapat dukungan ataupun kesetaraan untuk berkarya di bidang ini,” tambah Claudia.

Ia lebih lanjut memaparkan, berdasarkan data IMF tahun 2022, hanya sebanyak 10 persen perempuan yang berada di puncak kepemimpinan perusahaan fintech.

Maka dari itu, ekosistem fintech perlu lebih mengakomodasi kiprah dan keterlibatan perempuan, khususnya untuk mendorong inovasi dalam era ekonomi digital yang dihadirkan pemimpin perempuan di sektor fintech.

Friderica Widyasari Dewi dari Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut menyatakan pentingnya fintech untuk menjembatani perbedaan tingkat literasi dan inklusi keuangan antara laki-laki dan perempuan.

Baca juga: Hadapi Bonus Demografi, Kemnaker Perluas Pelatihan Vokasi Melalui BLK Komunitas

“Perempuan berperan penting sebagai aktor yang menggerakan ekonomi di Indonesia dan OJK memprioritaskan perluasan akses edukasi finansial terhadap perempuan,” ujar Friderica.

Menurut Claudia, ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam sektor fintech. Pertama, meningkatkan visibilitas pemimpin perempuan di industri fintech melalui partisipasi dalam acara-acara publik, maupun program pelatihan untuk pengusaha perempuan.

“Kedua, memperkuat startup yang dirintis oleh perempuan. Investor perlu peka terhadap gender bias yang dapat mempengaruhi penilaian mereka terhadap ide bisnis dari founder perempuan, terutama di sektor yang didominasi laki-laki seperti fintech,” kata Claudia, yang juga memiliki pengalaman di perusahaan venture capital.

Terakhir, keterwakilan para pemimpin perempuan perlu menjadi budaya profesional baru yang sangat mungkin dicapai dan bermanfaat bagi pertumbuhan sektor fintech.

“Apabila para pemimpin industri fintech mampu berkomitmen dalam menciptakan lingkungan profesional yang lebih setara dan kondusif bagi perkembangan karir perempuan, budaya ini sangat mungkin menjadi standar baru di sektor ini,” jelas Claudia.

Studi menunjukkan bahwa meningkatkan keterlibatan perempuan dapat membawa lebih banyak perspektif untuk mengidentifikasi peluang bisnis maupun mengembangkan produk.

Menurut data Harvard Business Review 2021, keberadaan perempuan di puncak kepemimpinan membuat perusahaan lebih terbuka pada perubahan sekaligus cenderung memitigasi risiko, serta fokus pada research & development.

Exit mobile version