Topcareer.Id – Hamil adalah perkara besar. Terutama ketika ini terjadi kamu masih harus berhadapan dengan tekanan pekerjaan, ekonomi yang goyah, dan tisiko Covid-19. Ini akan membuatmu rentan mengalami stres.
Jika ini terjadi, segeralah cari bantuan untuk mengurangi stres yang kamu rasakan. Karena menurut studi terbaru, ibu hamil yang tak berhasil menanggulangi stres yang dialaminya, akan berdampak ke bayi, di mana ia akan turut terpapar dan merasakan emosi dalam bentuk yang negatif.
Studi yang diterbitkan Rabu di jurnal Infancy, menemukan bayi dari ibu yang mengalami lebih banyak fluktuasi stres selama kehamilan, menunjukkan lebih banyak ketakutan, kesedihan, dan kesusahan, dibandingkan dengan ibu yang kurang stres.
Wanita dengan fluktuasi yang lebih tinggi lebih mungkin untuk melaporkan bahwa bayi mereka sering tampak marah, menangis atau rewel ketika ditinggalkan di tempat tidur. Sikap ini biasanya juga akan muncul ketika mereka lelah, atau dihadapkan orang dewasa yang tak dikenal, tulis penelitian itu.
“Kita tahu bahwa bayi yang mengalami stimulasi kronis dari sistem respons stres (kortisol yang meningkat secara kronis), atau ‘stres beracun,’ tanpa penyangga dari orang dewasa yang peduli, akan berdampak pada perkembangan otak dini, sistem kekebalan dan epigenetik,” kata Dr. Marian Earls , ketua American Academy of Pediatrics Council on Healthy Mental & Emotional Development, dalam sebuah email, mengutip dari CNN News. Dia tidak terlibat dalam penelitian.
Baca juga: Tak Lolos Gelombang 1? Calon Guru Bisa Ikut Seleksi PPG Prajabatan di Gelombang 2
Penelitian pada bayi dari ibu dengan depresi pascamelahirkan, menyoroti dampak potensial lainnya juga. Misalnya, anak-anak dari ibu yang depresi, lebih cenderung memiliki tingkat hormon stres kortisol yang lebih tinggi sebagai anak-anak prasekolah.
“Dan perubahan tingkat ini terkait dengan kecemasan, kewaspadaan sosial, dan penarikan diri,” menurut pernyataan kebijakan AAP tentang depresi setelah lahir.
Anak-anak ini mungkin memiliki “kontrol diri yang buruk, hubungan teman sebaya yang buruk, masalah sekolah, dan agresi,” serta gangguan keterikatan, masalah perilaku, depresi dan gangguan suasana hati lainnya, kata pernyataan itu.
Namun, sebuah studi tahun 2019 menemukan bahwa jika anak tersebut didampingi oleh orang dewasa yang peduli kepadanya, dan mampu memberikan hubungan pengasuhan yang aman dan stabil, kesulitan-kesulitan tersebut dapat dimodifikasi.