TopCareerID

Hati-Hati, Ini 7 Kalimat Beracun Bos yang Bisa Jadi Tanda Bahaya (Bagian 2)

Ilustrasi kalimat beracun bos toxic.

Ilustrasi kalimat beracun bos toxic. (Dok. inc)

Topcareer.id – Pemimpin atau atasan memang kadang jadi faktor penentu apakah kamu mampu loyal terhadap perusahaan atau tidak. Jika beruntung kamu menemui pemimpin yang mendukung bertumbuhnya tim, tapi jika tidak, kamu akan mendapat bos toxic dengan kalimat-kalimat beracun.

Dengan mengetahui bosmu toxic, bisa membuatmu memutuskan kapan harus tetap tinggal atau pergi. Mantan perekrut Google dan CEO perusahaan kepegawaian Continuum, Nolan Church berbagi soal kalimat-kalimat beracun yang digunakan bosmu dan bisa jadi tanda bahaya utama, melansir CNBC Make It.

5. “Kita perlu mengisi peran ini. Jangan sampaikan rincian tersebut kepada para kandidat.”

Apakah manajemen memberikan tekanan pada pewawancara untuk membesar-besarkan rincian perusahaan, norma tim, atau ekspektasi sehari-hari kepada calon kandidat? Apakah kamu merasa perusahaanmu menjual impian kepada kandidat yang sebenarnya tidak ada?

Bersikap tidak jujur hanya akan melanggar nilai-nilai pribadi dan merusak reputasimu dalam jangka panjang.

Baca juga: Perhatikan 1 Tanda Bahaya Ini Saat Interview, Mengarah Ke Kantor Toxic

6. “Aku meneleponmu tadi malam jam 9 malam. Kenapa kamu tidak menjawab?”

Pekerjaan dapat membantu kita tumbuh dan memberi kita tujuan. Namun hal ini tidak boleh mengorbankan kehidupan yang seimbang.

Memprioritaskan kehidupan pribadi tidak boleh dianggap sebagai kemalasan. Budaya yang selalu aktif, urgensi yang salah, atau kurangnya rasa hormat terhadap waktumu di luar pekerjaan berarti inilah saatnya untuk pergi.

7. “Kami tidak punya waktu untuk bersenang-senang.”

Ketika kamu berada di peran yang tepat dan bekerja dengan orang-orang hebat, mustahil untuk tidak bersenang-senang. Kita semua punya hari libur, tapi idealnya, hari baik lebih banyak daripada hari buruk.

Jika manajermu menciptakan lingkungan yang membuatmu takut, pertimbangkan untuk mencari tempat lain. Kita menghabiskan banyak waktu untuk fokus pada karier, dan kita berhak merasa bangga dan gembira dengan pekerjaan kita. Hidup ini terlalu singkat.

Exit mobile version