TopCareerID

Duh! 82% Karyawan Asia Punya Risiko Kesehatan Mental Sedang Hingga Tinggi

Ilustrai karyawan Asia punya risiko kesehatan mental dari sedang hingga tinggi. (Pexels)

Ilustrai karyawan Asia punya risiko kesehatan mental dari sedang hingga tinggi. (Pexels)

Topcareer.id – Menurut laporan baru dari broker asuransi Aon dan TELUS Health, 82% karyawan di Asia mempunyai risiko sedang hingga tinggi terkena masalah kesehatan mental. Asia “secara signifikan” lebih berisiko terhadap rendahnya produktivitas kerja, kecemasan, dan depresi dibanding wilayah lain di dunia.

Menurut laporan tersebut ditemukan bahwa 35% pekerja di Asia memiliki profil risiko kesehatan mental yang tinggi, dan 47% memiliki risiko sedang.

Survei yang dilakukan pada bulan November 2022 terhadap 13.000 pekerja di 12 lokasi di Asia – juga menemukan bahwa 51% merasa lebih sensitif terhadap stres dibandingkan tahun 2021.

“Meskipun pandemi ini mungkin akan segera berakhir pada tahun 2022, karyawan di seluruh Asia telah menghadapi sejumlah pemicu stres baru,” kata Jamie MacLennan, wakil presiden senior dan direktur pelaksana Asia-Pasifik di TELUS Health, mengutip laman CNBC.

“Hal ini mencakup ketidakpastian ekonomi, tantangan biaya hidup, kenaikan biaya perawatan kesehatan, dampak perubahan iklim, dan ketidakstabilan geopolitik,” tambah dia.

Korea Selatan (44%), Malaysia (42%) dan Jepang (41%) memiliki persentase pekerja berisiko tinggi dengan kesehatan mental.

Baca juga: Gelombang Panas Ekstrem Ternyata Pengaruhi Kesehatan Mental

“Kesulitan mental dan emosional, termasuk depresi dan kecemasan, banyak terjadi pada karyawan di semua tingkatan dan di setiap industri dan lokasi yang disurvei di seluruh Asia,” tambah laporan tersebut.

Produktivitas kerja di Asia

Asia “secara signifikan” lebih berisiko terhadap rendahnya produktivitas kerja, kecemasan, dan depresi dibandingkan dengan wilayah lain di dunia. Hal ini menunjukkan “meningkatnya kekhawatiran” terhadap kesejahteraan tempat kerja di kawasan ini.

Misalnya, Asia memiliki skor produktivitas kerja sebesar 47,2 dari 100, dibandingkan dengan 66,7 di Amerika Serikat dan 60,1 di Eropa.

“Angka-angka ini didorong oleh sejumlah faktor, dimulai dengan fakta bahwa Asia secara tradisional memiliki tingkat stigma yang jauh lebih tinggi terkait kesehatan mental,” jelas MacLennan.

“Lebih dari separuh responden mengatakan mereka akan khawatir dengan terbatasnya pilihan karier jika mereka memiliki masalah kesehatan mental yang diketahui oleh pemberi kerja mereka.”

Laporan tersebut juga menemukan bahwa 45% karyawan di Asia percaya bahwa kesehatan mental mereka berdampak pada produktivitas mereka di tempat kerja – dengan tujuh lokasi melaporkan kerugian “lebih tinggi dari rata-rata”, termasuk Malaysia, India, dan Filipina.

Hal ini harus menjadi perhatian bagi pemberi kerja, karena biaya bisnis yang mungkin timbul seperti cuti medis, cacat jangka panjang, kehadiran dan pergantian karyawan, kata laporan tersebut.

Exit mobile version