TopCareerID

Adopsi AI Meluas, Pekerja di Industri Ini Paling Mungkin Merasakannya

Ilustrasi rekrutmen untuk talenta dengan keterampilan Artificial intelligence (AI) jadi prioriitas.

Ilustrasi rekrutmen untuk talenta dengan keterampilan Artificial intelligence (AI) jadi prioriitas. (Pexels)

Topcareer.id – Pertumbuhan teknologi yang kian pesat, membuat hampir semua industri kini memasuki era Artificial Intelligence (AI/kecerdasan buatan) di mana adopsi AI makin meluas. LinkedIn mencatat peningkatan 21 kali lipat dalam pekerjaan global yang menyoroti teknologi AI baru seperti GPT atau ChatGPT.

Rohit Kalsy, Country Leader, Indonesia, di LinkedIn menyampaikan bahwa adopsi AI meluas di berbagai industri, mengawali pergeseran transformatif dalam persyaratan keterampilan pekerjaan.

Sementara, secara khusus, para profesional di Teknologi, Informasi, dan Media (71%), Ritel (71%), Grosir (68%), Layanan Keuangan (66%), dan Layanan Profesional (64%) adalah yang paling mungkin melihat peran mereka terganggu atau ditingkatkan oleh Generatif AI.

“Secara khusus di sektor teknologi, 6% pekerjaan secara global berpotensi ditingkatkan oleh GAI, 65% terganggu, dan 29% terisolasi,” kata Rohit dalam keterangan tertulis kepada Topcareer.id, Senin (26/2/2024).

“Menariknya, data kami juga menemukan bahwa para profesional teknologi yang telah mengembangkan satu soft skills atau lebih selain hard skills, 13% lebih cepat naik jabatan dibandingkan dengan karyawan yang hanya memiliki hard skills,” ucapnya.

Baca juga: Era AI, 97% Perusahaan Indonesia Berencana Tingkatkan Skill Karyawan

Rohit menjelaskan, Gen AI telah memicu perubahan signifikan dalam keterampilan yang dibutuhkan untuk pekerjaan di seluruh dunia.

Proyeksi menunjukkan bahwa pada tahun 2030, skill yang diperlukan untuk pekerjaan yang sama akan berubah sebesar 65% secara global, dan menjadi 68% di Indonesia. Transformasi ini akan memengaruhi jalur karier secara dramatis, dengan lebih dari setengah pekerjaan di dunia terpengaruh oleh AI.

“Terutama, negara-negara seperti Indonesia, Singapura, dan India dapat mengharapkan dampak yang signifikan, di mana sekitar 60% pekerjaan akan mengalami gangguan atau peningkatan berkat kehadiran AI dalam beberapa tahun mendatang,” ujar Rohit.

Rohit menegaskan bahwa saat ini hapir semua industri sedang menyaksikan pergeseran yang nyata menuju peningkatan skill, baik dalam hal keterampilan teknis maupun softskill, yang sangat penting untuk berkembang di era AI.

Baik karyawan maupun pengusaha, kata dia, perlu berkomitmen untuk mengembangkan literasi AI, yaitu dengan belajar keterampilan baru dan beradaptasi untuk bekerja dengan AI.

Exit mobile version