Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

Tren

Pangan Lokal Bisa Jadi Solusi Pemenuhan Gizi Masyarakat

Direktur Penganekaragaman dan Konsumsi Pangan di Badan Pangan Nasional, Rinna Syawal di IDEAFEST 2024 pada Sabtu (28/9/2024) di JCC Senayan, Jakarta. (Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan)

TopCareer.id – Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai solusi ketahanan pangan, serta pemenuhan gizi masyarakat.

Menurut Bapanas, penting melakukan penguatan konsumsi pangan melalui perbaikan gizi, khususnya bagi generasi muda seperti Gen Z agar menjadi sumber daya manusia (SDM) yang sehat, aktif, dan produktif.

Hal ini diperlukan untuk menyongsong bonus demografi 2045, yang membutuhkan kesiapan generasi emas yang andal, untuk membawa Indonesia menuju negara maju.

Baca Juga: Tips Gaya Hidup Sehat untuk Tubuh Ideal

“Pola konsumsi pangan merupakan perilaku paling penting dalam mempengaruhi keadaan gizi seseorang,” kata Rinna Syawal, Direktur Penganekaragaman dan Konsumsi Pangan, Bapanas, di JCC Senayan, Jakarta pada Sabtu lalu.

Rinna menjelaskan, kualitas konsumsi pangan penduduk Indonesia yang diukur dengan indikator skor pola pangan harapan (PPH) pada 2023, mencapai 94,1 di mana skor idealnya berada di angka 100.

Rinna menjelaskan, konsumsi beras dan terigu di Indonesia secara umum masih tinggi. Namun, konsumsi umbi-umbian, pangan hewani, protein, sayur dan buah masih memenuhi anjuran yang ditetapkan.

Di samping itu, konsumsi makanan dan minuman berkadar gula, garam, dan lemak masih tergolong tinggi, khususnya pada generasi muda.

Baca Juga: Cek Nih, 7 Ide Bisnis untuk Kamu yang Doyan Makan

Maka dari itu, kata Rinna, seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (1/10/2024), ada beberapa hal yang perlu jadi perhatian berbagai pihak dalam program perbaikan konsumsi pangan dan gizi masyarakat.

Di antaranya pemanfaatan potensi pangan dari produksi lokal untuk menggerakkan ekonomi setempat, serta pilihan menu konsumsi yang memenuhi gizi seimbang (Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman/B2SA) berbasis kearifan lokal.

Perlu juga edukasi ke penerima manfaat untuk meningkatkan pengetahuan, dan mengubah perilaku konsumsi pangan yang lebih sehat, serta memerankan ekosistem setempat (kantin sekolah, tenaga didik, orang tua, dan kelompok masyarakat).

Inisiator Nusantara Food Biodiversity, Ahmad Arif mengatakan, Indonesia sebenarnya memiliki sumber pangan dan makanan yang beragam, dengan cara tumbuh yang berbeda-beda.

“Secara kultural dan historis, pangan di Indonesia itu beragam sekali,” kata Arif dalam acara yang sama.

Baca Juga: Menkes: Rutin Cek Kesehatan, Biar Umur Panjang

Namun, ia mengatakan masyarakat di berbagai penjuru Nusantara dipaksa untuk mengonsumsi pangan seragam. Karena itu, ketergantungan daerah terhadap satu komoditas pangan juga sangat tinggi.

“Semakin jauh dari pusat sentral, semakin besar biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat daerah. Prinsip desentralisasi mendorong pemulihan pangan berdasarkan kondisi yang berbeda-beda di setiap daerah,” kata Arif.

“Jika daerah tersebut kaya dengan pangan ikan, masyarakatnya jangan dipaksakan untuk konsumsi daging ayam,” imbuhnya.

Indonesia Bisa Jadi Negara Berdaulat Pangan

Said Abdullah, Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) sekaligus mitra Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) mengatakan, Indonesia bisa menjadi negara yang berdaulat pangan.

“Selama semua pihak mau berkomitmen dan mau mewujudkannya,” kata Said dalam kegiatan yang sama.

Menurutnya, Indonesia punya prasyarat untuk mencapainya, seperti ada produsen pangan skala kecil yang terus berproduksi, serta sumber daya pangan yang melimpah dan beragam.

“Satu saja yang belum ada, yaitu kesungguhan, komitmen dan kolaborasi yang kuat untuk menjadikan negeri ini berdaulat,” kata Said.

Ia menambahkan, dalam konteks negara kepulauan, kedaulatan pangan bisa terwujud dengan memperkuat sistem pangan berdasarkan dua hal: diversity dan locality.

“Kita punya dua hal ini dan sayangnya kita sekarang mengingkari bahkan membunuhnya. Jadi tidak heran jika kemudian sistem pangan kita masih jauh dari tangguh, daulat pangan makin mengawang,” ujarnya.

Dengan mengedepankan diversifikasi dan pelestarian pangan lokal, para pemangku kepentingan tidak hanya menjaga kesehatan masyarakat.

Namun, mereka juga membangun ekonomi yang berkelanjutan, demi merealisasikan masa depan yang lebih sehat dan sejahtera bagi generasi mendatang.

Leave a Reply