Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

Tren

Pengungsian Harus Ramah dan Aman untuk Perempuan

Warga bergotong royong di dapur umum posko lapangan Kantor Wali Nagari Salareh Aia Utara, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (9/12/2025). (Dok: BNPB)

TopCareer.id – Pengungsian korban bencana didorong untuk ramah dan aman bagi perempuan.

Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi Universitas Airlangga Myrtati Dyah Artaria menyebut, bencana sering menciptakan ruang tidak aman bagi perempuan.

Hal ini terjadi karena adanya kombinasi antara norma sosial, ketimpangan kekuasaan, hingga faktor biologis.

Myrta mengatakan, saat bencana terjadi struktur perlindungan sosial melemah karena setiap orang fokus pada penyelamatan diri masing-masing.

“Dalam kondisi perlindungan yang longgar, terdapat peluang untuk beberapa oknum yang memanfaatkannya,” kata Myrta, dikutip dari laman resmi, Jumat (12/12/2025),

Perubahan lingkungan sosial yang tiba-tiba seperti berkumpulnya perempuan di satu tempat penampungan, dinilai bisa memicu situasi rawan.

Myrta mengatakan, hal seperti ini sangat bergantung pada budaya masyarakat mengenai bagaimana perempuan diperlakukan.

Baca Juga: Simak, Sederet Barang yang Wajib Masuk Tas Siaga Bencana

Ia pun menyoroti Kekerasan berbasis Gender (KBG) yang belakangan kerap terjadi. Kekerasan ini adalah tindakan kekerasan terhadap seseorang berdasarkan perbedaan jenis kelamin atau identitas gender mereka.

Tindakan ini bisa merugikan atau memberikan penderitaan fisik, seksual, atau psikologis, termasuk ancaman, paksaan, atau perampasan kebebasan baik di ranah publik atau privat.

KBG bisa terjadi pada siapa saja. Namun menurut Myrta, kekerasan ini sebagian besar berdampak pada perempuan dan anak perempuan.

Masalah ini berakar dari ketidaksetaraan gender, penyalahgunaan kekuasaan, dan norma sosial yang merugikan.

“Risiko kekerasan berbasis gender juga dapat terjadi karena fisiologi laki-laki dan perempuan berbeda. Di mana dorongan sifat agresif itu lebih besar pada laki-laki karena secara hormonal mereka berbeda,” kata Myrta.

Baca Juga: Indonesia-Uni Eropa Gaungkan Lawan Kekerasan Digital pada Perempuan dan Anak

KBG dapat berupa kekerasan fisik, seksual, psikologis, hingga ancaman dan pembatasan kebebasan yang dilakukan berdasarkan identitas gender korban.

“Penyebab terbesar tetap pada faktor sosial, seperti budaya patriarki, ketidaksetaraan gender, rendahnya pendidikan, dan penyalahgunaan kekuasaan,” tegasnya.

Masalah lain adalah tekanan psikologis akibat kehilangan rumah, harta, atau anggota keluarga, yang bisa berpengaruh ke semua kelompok pengungsi, termasuk perempuan.

Menurut Myrta, pendekatan empatik adalah kunci dalam memberikan pendampingan.

“Mereka yang membantu harus bisa menempatkan diri pada posisi para pengungsi. Prioritasnya adalah memenuhi kebutuhan paling mendesak, lalu kebutuhan spesifik lainnya,” kata Myrta.

Baca Juga: Wamendikti Ungkap Masih Ada Kesenjangan Gender di Bidang STEM

Khusus bagi pengungsi perempuan, kebutuhan mereka perlu terpenuhi sesuai dengan norma-norma yang mereka pegang. Para penolong perlu mempelajari hal tersebut sebelum terjun ke lapangan.

Untuk membangun pengungsian aman dan ramah perempuan, Myrta pun menegaskan pentingnya pemenuhan kebutuhan spesifik perempuan.

Ruang aman ini mencakup beberapa indikator seperti memastikan keamanan, privasi, dan martabat mereka tetap terjaga, sesuai dengan norma-norma yang dipegang.

Selain itu, perlu juga penyediaan perlengkapan kebersihan yang memadai dan akses mudah ke pelayanan kesehatan, termasuk dukungan kesehatan reproduksi dan psikologis.

Myrta mengatakan, alangkah lebih baik lagi jika ada mekanisme pelaporan yang aman dan rahasia untuk insiden kekerasan, serta staf yang terlatih dalam pencegahan dan respons terhadap KBG.

Leave a Reply