TopCareer.id – Tahun baru kerap menjadi momen refleksi sekaligus awal yang baru, di mana biasanya orang membuat resolusi untuk satu tahun ke depan.
Dari keinginan hidup lebih sehat, menata keuangan, hingga meningkatkan karier, resolusi tahun baru sering dianggap sebagai langkah awal menuju perubahan positif.
Namun, tak jarang resolusi tahun baru gagal dipertahankan dan berhenti di tengah jalan. Padahal, dengan pendekatan yang tepat dan tujuan yang realistis, resolusi tahun baru bisa dijalani secara konsisten.
Sejumlah pakar pun membagikan tips praktis agar resolusi yang dibuat di awal tahun tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar terwujud sepanjang tahun.
- Bersikap realistis
Claire Kaye, coach kepercayaan diri menyebut bahwa resolusi sering gagal karena tidak jelas, tidak realistis, dan terlalu luas.
Ia pun menyarankanmu untuk menulis apa saja yang sudah berjalan baik dalam hidupmu, apa yang menguras energi dan tidak lagi cocok, serta bagian mana dari hidupmu yang terasa autopilot.
“Ketika kamu memahami apa yang ingin kamu tambahkan dalam hidup, bukan sekadar apa yang ingin kamu hindari, perubahan akan jauh lebih berkelanjutan,” kata Kaye, dilansir BBC, dikutip Kamis (1/1/2026).
Baca Juga: Jelang Tahun Baru Malah Stres, Begini Mengatasinya
Buat tujuan yang fokus pada arah dan pengalaman, bukan cuma soal titik akhir.
Misalnya soal karier, ketimbang “aku ingin ganti karier” lebih baik: “Aku ingin mengeksplorasi pekerjaan yang memberiku energi dan makna, serta mengidentifikasi satu langkah kecil menuju ke sana.”
- Hindari dua kata ini
Psikolog Kimberley Wilson mengatakan, hindari bahasa yang kaku seperti “selalu” atau “tidak pernah.”
Janji seperti “aku tidak akan pernah makan junk food lagi” atau “aku selalu olahraga setiap minggu” menciptakan pola pikir hitam-putih.
“Contoh klasiknya ada pada diet atau olahraga. Orang merasa jika mereka melanggar satu hari saja, maka semuanya menjadi sia-sia,” kata Wilson di siniar BBC What’s Up Doc.
Menurutnya, orang sering terjebak pada satu kesalahan kecil tanpa melihat gambaran besar, padahal yang diperlukan adalah perspektif yang lebih luas.
Gunakan bahasa yang lebih fleksibel, seperti “aku ingin mencoba”, “aku ingin memberi lebih banyak ruang”, atau “aku sedang belajar apa yang cocok untukku”. Pendekatan ini membuat resolusi terasa lebih manusiawi dan realistis.
- Siapkan diri untuk gagal sesekali
Orang sering merasa gagal hanya gara-gara “terjatuh sekali.” Menurut Wilson, resolusi sering gagal karena orang membuat rencana untuk versi terbaik dari diri mereka.
“Mereka tidak siap saat kelelahan, pulang larut, atau menjalani hari kerja yang berat, sehingga tidak punya rencana cadangan,” katanya.
Jika resolusi tidak berjalan sesuai rencana, jangan langsung menghakimi diri sendiri. Ketimbang menunggu pekan depan atau bulan depan untuk memulai ulang, anggap setiap hari sebagai kesempatan baru untuk melanjutkan.
- Gabungkan kebiasaan baru dengan rutinitas lama
Salah satu cara agar resolusi berhasil adalah teknik habit stacking, yaitu mengaitkan kebiasaan baru dengan rutinitas yang sudah ada.
“Misalnya, habis menyikat gigi, aku melakukan sepuluh kali push-up. Setelah minum, aku menulis selama sepuluh menit. Setelah menidurkan anak, aku melakukan peregangan,” kata career coach Emma Jefferys.
Baca Juga: Jangan Cuma Wacana, Ini Cara Bikin Resolusi Tahun Baru Jadi Nyata
“Kamu tidak menambah beban baru, tapi menyelipkan kebiasaan baru ke dalam struktur aktivitas yang sudah ada,” imbuhnya.
Mengatur lingkungan juga berperan penting. Jika ingin lebih sering membaca, letakkan buku di tempat yang mudah terlihat. Jika ingin mengurangi waktu layar, simpan ponsel lebih jauh saat malam hari.
- Kaitkan resolusi dengan hal positif
Jika resolusi Tahun Barumu adalah menabung lebih banyak atau mengatur keuangan dengan lebih baik, para ahli mengatakan tujuan ini akan lebih bertahan jika dikaitkan dengan hal yang positif.
Tom Francis, kepala bidang keuangan pribadi di Octopus Money, mengatakan “memiliki tujuan yang jelas dan menyenangkan seperti liburan atau dana darurat, membuat menabung terasa bermakna, bukan membatasi.”
Ia juga mengingatkan agar tidak mencoba mengubah terlalu banyak hal sekaligus karena jarang berkelanjutan. Pilihlah dua atau tiga prioritas yang jelas.
Target kecil yang konsisten jauh lebih efektif daripada resolusi ambisius yang cepat ditinggalkan.
Jika kondisi tidak memungkinkan, tidak apa-apa untuk memperlambat langkah. Yang terpenting adalah menjaga kebiasaan tetap berjalan, meski dalam skala lebih kecil.













