TopCareerID

Ancaman Siber Intai E-Commerce di 2026: AI hingga Pencarian Gambar

Ilustrasi keamanan siber di sektor ritel dan e-commerce. (Dok: Kaspersky)

TopCareer.id – Perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkapkan beberapa tren keamanan siber dan ancaman apa saja yang harus diwaspadai oleh sektor ritel dan e-commerce di 2026.

Dikutip dari siaran pers, Senin (5/1/2026), Kaspersky memprediksikan bahwa chatbot punya potensi untuk jadi alat pencarian produk yang umum di e-commerce.

Menurut mereka, tampilan antarmuka berbentuk chat mendorong pengguna untuk membagikan permintaan yang lebih detail, memakai bahasa alami, mengungkapkan preferensi, batasan, dan informasi kontekstual.

Pergeseran ini dinilai menimbulkan ancaman privasi baru, karena platform mengumpulkan profil pengguna melalui interaksi obrolan.

Akibatnya, log chatbot mungkin menjadi sepeka data transaksional, meningkatkan risiko pengumpulan data yang berlebihan, penyalahgunaan, atau pengungkapan informasi pribadi.

Anna Larkina, pakar analisis data web dan privasi, Kaspersky menyebut, pola pencarian itu sendiri sedang berubah, termasuk bagaimana orang mencari produk secara daring.

Baca Juga: Awas, Penipuan Siber Mengintai di Momen Natal dan Tahun Baru

“Pada tahun 2025, terjadi pergeseran bertahap dari kueri kata kunci sederhana ke cara yang lebih personal seperti percakapan dan visual untuk menemukan apa yang akan dibeli,” kata Larkina.

Karena model-model ini bergantung pada masukan pengguna yang lebih luas, penanganan data yang cermat akan tetap jadi pertimbangan penting untuk menjaga kepercayaan pengguna.

Prediksi lainnya adalah perubahan dalam pajak dan aturan perdagangan dapat dieksploitasi dalam penipuan online.

Modifikasi dalam pajak, bea impor, dan aturan perdagangan lintas batas mungkin akan digunakan sebagai umpan dalam kampanye phishing dan toko online palsu, yang mempromosikan penawaran murah tidak realistis atau klaim penghematan biaya.

Karena aturan penetapan harga dan biaya terus berkembang di berbagai pasar, hal ini dapat menurunkan kewaspadaan, meningkatkan efektivitas skema tersebut, terutama terhadap pengecer kecil dan menengah.

Baca Juga: Cari Streaming Avatar: Fire and Ash Gratis? Awas Uang Hilang

Para pakar juga menyebut, asisten belanja berbasis AI diperkirakan akan semakin banyak digunakan di luar platform toko online, misalnya melalui peramban, aplikasi seluler, atau layanan pihak ketiga.

Meskipun tujuannya untuk mempermudah pencarian produk dan membandingkan harga, alat ini juga membawa risiko privasi baru yang sering tidak terlihat.

Agar bekerja dengan baik, agen belanja AI eksternal perlu mengakses aktivitas pengguna secara terus-menerus, termasuk riwayat pencarian, lokasi, dan interaksi dengan produk di berbagai situs.

Hal ini memungkinkan pengumpulan profil perilaku yang sangat rinci, di luar kontrol pengguna dan platform, sehingga berpotensi menimbulkan pengumpulan data berlebihan, penggunaan data yang tidak transparan, dan risiko paparan informasi pribadi secara tidak sengaja.

Baca Juga: 6,4 Juta Phishing Targetkan Konsumen Belanja Online di 2025, 20 Juta Incar Gamer

Ancaman siber lainnya di 2adalah terkait risiko privasi dari pencarian produk menggunakan gambar.

Sebelumnya, kekhawatiran utama terkait privasi hanya muncul dari foto yang dibagikan secara sukarela dalam ulasan produk. Kini, pencarian berbasis gambar membuat unggahan foto menjadi bagian rutin dari pengalaman berbelanja di platform e-commerce.

Meskipun fitur ini memudahkan menemukan produk, hal ini juga meningkatkan risiko paparan data pribadi secara tidak sengaja.

Foto yang dikirim pengguna bisa menampilkan wajah, lingkungan rumah, atau informasi sensitif seperti nama, nomor telepon, atau alamat yang terlihat di label pengiriman atau kemasan.

Karena itu, pengecer perlu memastikan pemrosesan data aman, penggunaan data seminimal mungkin, dan penyimpanan terbatas sebagai standar keamanan.

Tips jaga keamanan siber saat bertransaksi digital

Bagi masyarakat, berikut beberapa tips untuk menjaga diri dari ancaman siber saat melakukan transaksi digital:

Berhati-hatilah dengan apa yang Anda bagikan dan hindari mengunggah gambar atau detail pribadi dalam pertanyaan. Interaksi Anda membantu membangun profil yang digunakan untuk iklan dan peningkatan layanan.

Jangan percaya diskon atau pemberitahuan pesanan dari sumber pihak ketiga. Selalu periksa kembali alamat pengirim dan ketik URL situs web toko secara manual ke browser Anda daripada mengklik tautan apa pun yang Anda terima.

Jika Anda berbelanja di toko online baru atau yang tidak dikenal, luangkan waktu sejenak untuk memeriksa keabsahannya.

Carilah ulasan pelanggan, pastikan alamat situs web dieja dengan benar, dan konfirmasikan bahwa halaman situs terlihat profesional dan rapi.

Jadikan kebiasaan digital (misalnya seminggu sekali) untuk masuk ke perbankan online atau aplikasi seluler Anda untuk meninjau semua transaksi terbaru.

Jika Anda menemukan sesuatu yang mencurigakan, blokir kartu Anda dan hubungi bank Anda segera.

Gunakan perangkat lunak keamanan siber yang andal untuk mencegah infeksi dan pindai perangkat Anda secara teratur.

Jika Anda menemukan aplikasi yang terinfeksi, segera hapus dan jangan instal ulang hingga pembaruan yang bersih dan
terkonfirmasi dirilis.

Lengkapi ini dengan mengelola data sensitif secara aman: hindari menyimpan kata sandi atau frasa pemulihan di galeri foto atau catatan Anda. Sebagai gantinya, gunakan perangkat lunak pengelola kata sandi terpercaya.

Exit mobile version