Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

Edukasi

Jangan Ganti Interaksi Keluarga di Meja Makan dengan Gadget

Wamendiktisaintek Stella Christie dalam Seminar Natal Nasional 2025, yang digelar di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi, Sabtu (3/1/2026). (Dok: Kemendiktisaintek)

TopCareer.id – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan pentingnya interaksi langsung dalam keluarga, sebagai fondasi utama membangun kecerdasan anak.

Hal ini ia sampaikan dalam paparannya di Seminar Natal Nasional 2025, yang digelar di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi, Sabtu (3/1/2026).

Menurut Stella, saat ini dominasi gadget mulai mengikis waktu interaksi berkualitas saat makan bersama keluarga.

Wamendikti menyebut, berdasarkan data statistik, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu tiga jam delapan menit setiap hari untuk media sosial, dan melonjak hingga tujuh jam jika digabung dengan penggunaan internet secara umum. Angka ini lebih tinggi pada generasi Z yang mencapai empat jam khusus untuk media sosial.

Stella mengatakan, banyak waktu kita, bahkan saat makan malam, dihabiskan masing-masing dengan layar.

“Padahal, makan malam adalah momen krusial dimana tidak ada alasan anak sedang sekolah atau orang tua bekerja di luar rumah,” kata Stella, seperti dikutip dari laman resmi Kemdiktisaintek, Selasa (7/1/2026).

Baca Juga: Wamendikti Ungkap Masih Ada Kesenjangan Gender di Bidang STEM

Stella menambahkan, hasil studi membuktikan bahwa anak-anak yang belajar kosa kata baru melalui interaksi langsung dengan orang tua, jauh lebih unggul dibandingkan mereka yang menonton video edukasi, meski video tersebut ditonton bersama orang tua.

“Ada fenomena 10 ribu word gap pada usia lima tahun,” kata Stella.

“Anak yang jarang berbincang dengan orang tuanya memiliki kosa kata yang lebih rendah, yang secara langsung memprediksi kemampuan belajar mereka di sekolah di masa depan,” imbuhnya.

Karena itu, sangat penting bagi orang tua menumbuhkan rasa ingin tahu (curiosity) lewat tanya jawab yang berkualitas, dengan mendorong orang tua untuk memberikan jawaban yang membangun struktur berpikir, bukan sekadar jawaban singkat yang menutup ruang diskusi.

Stella mengatakan, bertanya dan menjawab adalah bentuk dari active learning.

Baca Juga: Liburan Juga Harus Dukung Tumbuh Kembang anak

“Jika anak hanya dibiarkan dengan gawai, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar secara aktif karena gawai tidak bisa memberikan umpan balik langsung terhadap rasa penasaran mereka,” kata Stella.

Wamendiktisaintek pun mengingatkan, inti dari keluarga adalah penanaman nilai-nilai dan penciptaan kenangan bahagia. Jika komunikasi di meja makan tergantikan oleh layar, maka nilai-nilai yang diserap anak bukan berasal dari orang tua, tapi kurasi algoritma kecerdasan buatan (AI) dan media sosial.

Stella pun menegaskan, keluarga merupakan jangkar kemanusiaan. Selain itu, manusia adalah makhluk sosial yang dianugerahi kemampuan untuk bertukar pikiran.

“Jangan sampai kita menghilangkan anugerah tersebut. Mari kita mulai dari hal sederhana: makan bersama dan berbicara tanpa gawai,” pungkasnya.

Leave a Reply