TopCareer.id – Chatbot kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang tak cuma jadi asisten pencarian tapi juga teman curhat kini jadi fenomena yang banyak terjadi di kalangan Milenial dan Gen Z.
Temuan Kaspersky di musim libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 lalu juga menunjukkan bahwa banyak orang yang meminta AI memberikan dukungan emosional atau jadi teman curhat bagi mereka.
Mengutip siaran pers, Rabu (7/1/2026), popularitas AI pada musim liburan 2025/2026 cukup tinggi, dengan 74 persen peserta survei menunjukkan bahwa mereka berencana untuk memasukkan AI ke dalam aktivitas liburannya.
Generasi muda menunjukkan antusiasme terkuat terhadap penggunaan AI, dengan 86 persen responden berusia 18-34 tahun menyatakan niat untuk menggunakan kecerdasan buatan selama masa liburan.
Baca Juga: Bijakkah Jadikan AI Teman Curhat?
Separuh pengguna AI akan memakainya selama liburan untuk mencari resep (56 persen) atau restoran dan akomodasi (54 persen).
Selain itu, 50 persen responden menjadikan AI sebagai teman bertukar pikiran tentang ide hadiah, cara merayakan, atau kiat-kiat dekorasi Natal dan Tahun Baru.
Jumlah responden yang sama berencana untuk mempercayai AI untuk menghasilkan ide tentang cara menghabiskan waktu luang mereka.
Selama liburan, separuh responden menganggap AI sebagai asisten belanja, yang dapat membantu mereka membuat daftar belanja, menemukan penawaran terbaik, atau menganalisis ulasan.
Generasi muda menunjukkan minat yang tinggi pada AI sebagai perencana anggaran (50 persen), sementara yang lebih tua (55+) kurang antusias menjadikannya asisten untuk mengelola pengeluaran (31 persen).
Baca Juga: Saat AI Bikin Belanja Online Makin Personal
Mereka yang berusia lebih tua lebih memilih untuk menggunakannya untuk mencari resep (59 persen) dan menghasilkan ide hadiah (41 persen).
Kaspersky juga menyebut, secara global, 29 persen dari mereka yang memakai AI selama liburan mempertimbangkannya untuk bicara dengan AI saat merasa tidak bahagia. Di Indonesia, angkanya bahkan lebih tinggi yaitu 31 persen.
Generasi Z dan milenial menunjukkan minat terbesar pada dukungan berbasis AI di antara semua usia, dengan 35 persen responden memilih opsi ini.
Generasi yang lebih tua menunjukkan minat yang sangat terbatas pada bidang AI ini, dengan hanya 19 persen responden berusia 55 tahun ke atas yang mempertimbangkan untuk berbicara dengan AI saat mereka kesal.













