TopCareerID

Studi: Pendidikan Tinggi Masih Berpengaruh ke Karier

Ilustrasi kuliah. (Gambar dibuat dengan AI ChatGPT)

TopCareer.id – Banyak orang yang mengatakan bahwa kuliah atau memiliki pendidikan tinggi tidak menjamin kesuksesan. Apalagi, saat ini cari kerja lebih sulit dan biaya pendidikan semakin mahal.

Meski memang kuliah tidak langsung membuat seseorang akan sukses, namun sebuah studi dari Indeed menegaskan bahwa pendidikan tinggi masih punya pengaruh pada karier, dan layak untuk dilakukan.

Riset Hiring Lab Indeed di Amerika Serikat (AS) mencatat, pekerja lulusan SMA lebih mungkin berada di kelompok dengan pendapatan terendah, dengan 31 persen berpenghasilan di bawah USD 15 ribu.

Sementara lulusan sarjana angkanya hanya 17 persen yang berada di kelompok berpendapatan terendah.

Dilansir Indeed, dikutip Kamis (8/1/2026), data yang diambil dari warga AS itu mengungkapkan, 75 persen lulusan SMA berpenghasilan di bawah USD 50 ribu, sementara lulusan sarjana angkanya hanya 45 persen.

Laporan tersebut juga mengungkap bahwa pekerja dengan tingkat pendidikan lebih tinggi jauh lebih mungkin mendapatkan pelatihan dari perusahaan.

Di antara pekerja lulusan SMA, 57 persen mengatakan mereka tidak menerima pelatihan dari perusahaan, dibandingkan 33 persen dari pemegang gelar sarjana.

Artinya, mereka yang berpendidikan lebih tinggi cenderung mendapat lebih banyak kesempatan untuk terus berkembang.

Meski angka-angka tersebut menunjukkan keuntungan pendidikan tinggi, keputusan untuk kembali belajar tetap bukan perkara mudah.

Di balik setiap statistik, ada pertanyaan personal yang berat: apakah sekolah lagi adalah pilihan yang tepat? Apakah itu akan benar-benar mengubah hidup?

Baca Juga: Studi Deloitte: 20 Persen Gen Z di RI Putuskan Tak Lanjut Pendidikan Tinggi

Bagi banyak orang dewasa, manfaat pendidikan tak selalu diukur dari uang. Proses belajar kembali sering kali membawa perubahan dalam kepercayaan diri, kemampuan, dan arah hidup.

Bagi mereka yang tak mendapat dukungan dari perusahaan, kemajuan karier sering bergantung pada inisiatif pribadi.

Kabar baiknya, perubahan tak selalu menuntut kuliah bertahun-tahun. Riset Harvard Business School menunjukkan bahwa program singkat dan terfokus juga berdampak signifikan.

Hampir satu dari empat peserta program sertifikat melaporkan kenaikan gaji, dengan rata-rata peningkatan mencapai USD 20.466. Tidak sedikit yang merasa keterampilan barunya langsung meningkatkan kinerja di tempat kerja.

Rahul Agarwal, seorang wirausaha, mengatakan dirinya ingin meningkatkan kemampuan manajerialnya. Ia pun memilih jalur pendidikan yang lebih singkat.

Perusahaannya sendiri mensponsori program pendidikan eksekutif selama satu bulan di sekolah bisnis ternama. Investasi jangka pendek ini membantunya berkembang lebih cepat dibandingkan jika ia belajar sendiri.

“Saya perlu mengelola orang dengan lebih baik, dan program ini memberi saya alat serta perspektif yang lebih tepat,” kata Agarwal.

Program yang dia ikuti juga membantunya belajar mendelegasikan tugas, sesuatu yang menurutnya sangat perlu ia perbaiki sebagai seorang manajer.

Sementara, Lauren Henn Devaney mengambil satu mata kuliah di Harvard Extension School, dengan tunjangan pendidikan dari perusahaannya bekerja.

Baca Juga: Pendidikan Tinggi Harus Bisa Manfaatkan AI Generatif

“Saya ingin belajar sambil bekerja dan terus meningkatkan keterampilan,” katanya. Kelas pertamanya tentang negosiasi pun dinilai langsung bermanfaat.

Satu mata kuliah itu kemudian berkembang menjadi perjalanan lima tahun menuju gelar Master Manajemen, yang diselesaikannya sambil bekerja penuh waktu dan membesarkan anak.

Di luar nilai gelarnya sebagai kredensial, proses meraih gelar tersebut mengubah cara Henn Devaney memandang kekuatan dirinya dan apa yang ia cari dari pekerjaannya.

“Gelar ini mencerminkan siapa saya sebagai seorang karyawan,” katanya. “Ini adalah bukti seberapa keras saya bisa bekerja, dan bukti bahwa saya menikmati proses belajar.”

Bagi sebagian orang lain, pendidikan lanjutan bersifat lebih strategis, yaitu untuk tetap relevan di pasar kerja yang terus berubah.

Hiring Lab mencatat, pekerja yang mengombinasikan pengalaman kerja dengan kursus terarah atau sertifikasi teknis bisa terus maju di berbagai tahap karier, apalagi jika keterampilannya selaras dengan kebutuhan industri.

Baca Juga: 10 Jurusan Kuliah Ini Tak Sementereng Dulu

Samuel Galler mengatakan, gelar PhD Oxford membantunya masuk ke peran kuantitatif di awal karier, meski latar belakangnya bukan dari bidang itu. Namun seiring waktu, dia sadar ada celah besar dalam kemampuan teknisnya.

“Saya sering dianggap terlalu berpengalaman, tapi sekaligus kurang kompeten,” ujarnya. “Saat itu saya sadar, saya belum punya keterampilan yang benar-benar dibutuhkan.”

Selama pandemi, Galler mengikuti kursus daring di bidang ekonomi, statistik, dan data science.

“Rasanya seperti akhirnya menemukan potongan puzzle yang hilang,” katanya. “Saya kembali bangun pagi dengan semangat untuk belajar.”

Langkah tersebut membawanya menempuh program magister sembilan bulan di MIT. Usai lulus, ia mendapatkan posisi senior di bidang data science, kali ini dengan keterampilan dan kepercayaan diri yang sejalan.

Laporan Lightcast menunjukkan, hampir sepertiga keterampilan yang dibutuhkan untuk pekerjaan rata-rata pada 2024 berbeda dibandingkan 2021.

Di dunia kerja yang bergerak cepat, kemampuan untuk terus belajar pun telah menjadi aset karier tersendiri.

Laporan Hiring Lab menegaskan bahwa pendidikan berkelanjutan membuka banyak pintu: dari penghasilan yang lebih baik hingga mobilitas karier yang lebih luas. Namun di balik semua itu, ada dampak yang lebih personal.

“Kelas-kelas itu bukan cuma memberi saya keterampilan baru,” kata Galler. “Tapi juga memberi saya kepercayaan diri. Untuk pertama kalinya, saya benar-benar tahu ke mana saya ingin melangkah.”

Exit mobile version