Laporan ini juga mencatat bahwa tren perekrutan hijau tumbuh merata di berbagai wilayah. 47 negara yang tercakup dalam data LinkedIn menunjukkan peningkatan porsi perekrutan hijau sepanjang 2021–2025.
Di antara negara dengan ekonomi besar, Amerika Serikat mencatat laju pertumbuhan tahunan sebesar 8,9 persen, berada di bawah Brasil (10,7 persen), namun melampaui Inggris (7,8 persen), Jerman (5,4 persen), dan Prancis (4,9 persen).
Dari sisi industri, sektor Teknologi, Informasi, dan Media mencatat pertumbuhan tertinggi dalam porsi perekrutan hijau selama periode 2021–2025, yakni 11,3 persen.
Pertumbuhan signifikan juga terlihat pada sektor Transportasi, Logistik, Rantai Pasok, dan Penyimpanan (8,0 persen), serta Jasa Keuangan (7,5 persen).
Menariknya, pada 2025 seluruh sektor mencatat porsi perekrutan hijau yang melampaui ketersediaan talenta hijau yang ada, menandakan meningkatnya peran keterampilan hijau di berbagai industri.
Baca Juga: Alasan Green Skills Jadi Kunci Sukses Karier Masa Depan
Sue Duke, Vice President of Public Policy & Economic Graph di LinkedIn, mengatakan, seiring green skill yang menyebar ke seluruh sektor, keterampilan ini membantu mewujudkan hal-hal yang paling diperhatikan dunia usaha dan pemerintah seperti kemampuan beradaptasi, ketahanan, efisiensi, daya saing, dan inovasi.
“Jalur dari ambisi iklim menuju aksi nyata dipenuhi oleh peluang ekonomi bagi pekerja, bisnis, dan pemerintah,” kata Duke.
Meski begitu, kesenjangan antara permintaan dan pasokan tenaga kerja terampil masih terlihat.
“Kesenjangan ini hanya dapat ditutup jika tindakan tegas segera diambil untuk menjadikan pengembangan keterampilan dan pelatihan tenaga kerja sebagai bagian inti dari kebijakan iklim dan energi,” pungkasnya.













