TopCareer.id – Vaksinasi dan rajin mencuci tangan jadi salah satu langkah penting untuk mencegah penularan influenza yang belakangan dijuluki sebagai “super flu.”
Menurut Agung Dwi Wahyu Widodo, pakar imunologi dari Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), varian H3N2 Subclade K super flu adalah bagian dari virus Influenza tipe A.
Ia menjelaskan, Influenza A memiliki variasi antigenik yang tinggi, karena adanya protein permukaan Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA).
Fenomena Superflu terjadi akibat antigenic drift atau mutasi genetik yang membuat virus terus berevolusi.
Mengutip laman resmi Unair, Rabu (14/1/2026), Agung menyebut bahwa virus influenza, khususnya tipe A, sangatlah dinamis.
“Kemampuannya melakukan reassortment atau penyusunan ulang genetik inilah yang memicu munculnya varian-varian baru yang berpotensi menimbulkan gejala lebih berat bagi individu yang tidak memiliki kekebalan,” kata Agung.
Baca Juga: Super Flu, Apa Gejala yang Harus Diwaspadai?
Meski gejalanya serupa dengan flu biasa seperti demam, batuk, dan nyeri otot, mutasi pada varian ini meningkatkan kekhawatiran akan risiko komplikasi seperti pneumonia bagi kelompok rentan.
Karena itu, vaksinasi influenza tahunan menjadi cara yang dapat menekan risiko keparahan akibat superflu.
Mengingat sifat virus yang terus bermutasi (antigenic drift), pembaruan vaksin secara rutin sangat perlu agar kekebalan tubuh tetap relevan dengan strain yang sedang bersirkulasi di masyarakat.
“Vaksinasi dan proteksi pribadi adalah kunci utama. Jika individu terlindungi, maka risiko penularan secara komunitas juga akan ikut menurun,” kata Agung.
Selain itu, penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak tetap menjadi garda terdepan pencegahan.
Dari sisi pengobatan, pemberian antiviral seperti Oseltamivir masih dinilai efektif jika diberikan dalam waktu kurang dari 48 jam sejak gejala pertama muncul.
Baca Juga: DPR Dorong Pakai Masker di Ruang Publik Demi Cegah Super Flu
Di sisi diagnosis, Agung menekankan vitalnya peran laboratorium mikrobiologi klinik dalam melakukan diagnosis yang akurat.
Menurutnya, metode Real-Time PCR (RT-PCR) tetap menjadi standar emas untuk membedakan influenza dengan virus pernapasan lainnya seperti SARS-CoV-2 atau RSV.
“Diagnosis cepat bukan sekadar untuk menentukan obat, tetapi juga untuk surveilans strain. Kita perlu memantau apakah virus yang beredar telah mengalami resistensi terhadap antiviral yang ada saat ini,” kata Agung.
Di musim hujan dan kemunculan varian baru pun, Agung mengimbau masyarakat agar tidak meremehkan gejala flu.
Kesadaran akan diagnosis dini dan kelengkapan vaksinasi diharapkan mampu mencegah terjadinya wabah super flu yang lebih luas di Indonesia.













