TopCareerID

Tarot Digemari Gen Z, Ini Kata Psikolog

Ilustrasi kartu tarot. (Keith Gonzalez/Pixabay)

TopCareer.id – Tarot yang dulu dipandang sebagai hal mistis atau malah cuma sekadar hiburan, kini tengah jadi tren di kalangan anak muda, khususnya Gen Z.

Banyak masyarakat muda yang menjadikan tarot sebagai salah satu cara dalam mengurai rasa gelisah akan hal yang sudah atau belum terjadi.

Menurut Dian Kartika Amelia Arbi, psikolog klinis Universitas Airlangga (UNAIR), tarot bukan aktivitas yang baru, tapi sudah ada dari beberapa generasi sebelumnya.

Namun, jika dilihat dari sisi psikologis, ada alasan mengapa banyak Gen Z kini menggandrungi tarot.

“Dari perspektif psikologi, salah satunya itu sebagai salah satu cara individu atau Gen Z ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak, mereka merasa tidak berdaya,” kata Dian, mengutip laman resmi UNAIR, Senin (19/1/2026).

“Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini. Jadi hal itu diharapkan memberikan rasa tenang,” ujarnya.

Baca Juga: Kukusan Kian Digemari, Dinilai Lebih Sehat dan Bergizi

Pembacaan tarot bisa membuat seseorang berkhayal untuk dapat memprediksi atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Ini bisa mengurangi kecemasan dan jadi salah satu coping mechanism pada individu.

Sebagai contoh, saat seseorang menghadapi sesuatu yang tidak bisa diprediksi, sehingga mengalami kecemasan.

“Sehingga tarot ini menawarkan sesuatu atau narasi-narasi tentang diri mereka tanpa judgement atau apa pun yang bisa dianggap menenangkan,” kata Dian.

Menurut Dian, jika tarot dijadikan sebagai pendorong evaluasi yang membuat individu berkembang, hal itu bukanlah masalah

“Tapi ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi warning pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat problem solving,” kata Dian.

Baca Juga: Benarkah Pelihara Kucing Bisa Bikin Mandul?

Berhati-hatilah juga terhadap pemikiran yang membuat individu tidak berusaha memperbaiki situasi dirinya, karena merasa bahwa apa yang terjadi sudah ditakdirkan. Dari perspektif psikologi disebut self-fulfilling prophecy.

“Jadi bukan ramalan atau prediksi itu yang memang nyata terjadi. Tapi memang karena kita sudah meyakini hal itu sebelumnya akan terjadi, sehingga energi kita mengarahkan pada berlaku yang kita prediksi sebelumnya,” katanya.

Untuk mengelola stres secara mandiri, Dian pun menyarankan beberapa cara seperti journaling, mengelola waktu, mengonsumsi makanan bergizi, serta rutin berolahraga.

Namun, dalam menghadapi krisis emosional, jika individu tidak mampu menangani sendiri, maka cara terbaik adalah mendatangi psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan secara profesional.

Exit mobile version