TopCareerID

Pakar: Superflu Bukan Nama Penyakit Baru

Ilustrasi terkena flu. (Usman Yousaf/Pixabay)

TopCareer.id – Pakar dari IPB University menegaskan bahwa istilah superflu bukanlah nama penyakit baru.

Menurut Desdiani, Dosen Fakultas Kedokteran IPB University menyebut, superlu adalah sebutan populer untuk menggambarkan peningkatan kasus influenza, yang disebabkan oleh strain tertentu dari virus influenza.

Desdiani menjelaskan, istilah ini merujuk pada virus influenza A subtipe H3N2, khususnya subklade K, yang menyebar lebih cepat dan menyebabkan lonjakan signifikan kasus flu musiman.

Ia mengatakan, hampir 90 persen kasus flu terbaru dilaporkan disebabkan oleh strain ini.

Namun, istilah superflu bukan dimaksudkan sebagai klasifikasi ilmiah terbaru, namun lebih menyoroti perubahan perilaku virus yang terus berevolusi.

“Virus influenza terus mengalami mutasi untuk menghindari sistem kekebalan tubuh manusia. Karena itu, vaksin flu perlu diperbarui secara berkala,” kata Desdiani, mengutip laman resmi IPB University, Selasa (20/1/2026).

Dia mengungkapkan, subtipe influenza A/H3N2 sudah ada sejak 1968 dan telah mengalami lebih dari selusin perubahan.

Baca Juga: Super Flu, Apa Gejala yang Harus Diwaspadai?

Lebih lanjut, Desdiani mengatakan bahwa meski musim flu tahun ini dimulai lebih awal, tingkat penyebaran dan keparahan penyakit masih berada dalam batas normal untuk musim influenza.

Hal yang perlu mendapat perhatian utama adalah beban terhadap sistem layanan kesehatan di berbagai wilayah, yang sangat bergantung pada aktivitas virus serta ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan.

Desdiani menjelaskan, di negara tropis, aktivitas influenza relatif rendah pada Juni hingga Agustus 2025.

Kasus mulai meningkat pada September dan terus naik hingga November 2025, dengan dominasi influenza A/H3N2. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, puncak kasus terjadi pada Agustus 2025 dengan subklade K mendominasi.

Berdasarkan data sekuens genetik, subklade K mengalami genetic drift, yakni perubahan genetik yang dapat memengaruhi karakteristik virus.

Meski demikian, Desdiani menyebutkan bahwa jumlah kasus flu telah mencapai titik datar dan menurun stabil sejak pertengahan Desember 2025.

Ia mengatakan, tingkat positivitas tes flu mingguan juga turun jadi sekitar 4 persen, meski musim flu tahun ini tercatat satu bulan lebih awal dengan jumlah kasus tiga kali lipat, dibandingkan periode yang sama pada 2024.

Baca Juga: Pakar Ingatkan Pentingnya Vaksinasi buat Cegah Super Flu Parah

Sebagai pencegahan, Desdiani mengingatkan pentingnya vaksinasi influenza.

Vaksin flu terbukti menurunkan risiko kunjungan ke fasilitas kesehatan atau rawat inap akibat flu hingga 70 sampai 75 persen pada anak, serta sekitar 30 hingga 40 persen pada orang dewasa.

Selain itu, masyarakat juga harus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, memakai masker saat sakit, istirahat di rumah, serta menjaga etika batuk dan kebersihan tangan.

“Sebagian besar kasus flu memang sembuh sendiri, tetapi komplikasi serius dapat terjadi, terutama pada anak kecil, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan tenaga kesehatan,” kata Desdiani.

Ia menambahkan, kasus flu lebih banyak ditemukan pada kelompok anak, remaja, dan lansia.

Anak dan remaja rentan karena tingginya kontak di lingkungan sekolah, sementara lansia berisiko mengalami sakit berat akibat penyakit penyerta dan penurunan fungsi kekebalan tubuh.

Jadi, kewaspadaan dan upaya pencegahan tetap perlu ditingkatkan meskipun superflu bukan merupakan penyakit baru

Exit mobile version