TopCareerID

Waspada Penipuan Berkedok LinkedIn Serbu Kolom Komentar

LinkedIn lakukan PHK putaran kedua, pangkas 668 karyawan.

LinkedIn (Sumber foto: Business LinkedIn)

TopCareer.id – Pengguna LinkedIn harus waspada dengan adanya phishing berkedok komentar balasan palsu yang mengatasnamakan platform tersebut.

Modus yang digunakan adalah pengguna mendapat peringatan adanya pelanggaran kebijakan palsu, sehingga mereka diminta untuk mengklik link eksternal.

Balasan-balasan ini secara meniru branding LinkedIn dan dalam beberapa kasus, menampilkan URL pendek lnkd.in, sehingga tautan phishing jadi lebih sulit dibedakan dengan yang asli.

Dilaporkan Bleeping Computer, dikutip Selasa (20/1/2026), beberapa pengguna menjadi target dari balasan bot dengan profil mirip LinkedIn di unggahan mereka.

Baca Juga: 6,4 Juta Phishing Targetkan Konsumen Belanja Online di 2025, 20 Juta Incar Gamer

Komentar-komentar ini mengklaim pengguna “terlibat dalam aktivitas yang tidak sesuai” dengan kebijakan platform, sehingga akun mereka “sementara dibatasi” sampai mereka mengunjungi link yang tercantum di komentar tersebut.

Profil-profil LinkedIn palsu itu juga menggunakan logo dari platform jejaring profesional tersebut, serta memakai nama yang bervariasi seperti “Linked Very.”

Pihak LinkedIn pun menyatakan mereka sudah mengetahui adanya aktivitas tersebut.

“Saya dapat mengonfirmasi bahwa kami mengetahui aktivitas ini dan tim kami sedang bekerja untuk mengambil tindakan,” kata juru bicara LinkedIn kepada Bleeping Computer.

Baca Juga: Awas, Jangan Ketipu Email HRD Palsu

Mereka menegaskan, LinkedIn tidak akan menyampaikan pelanggaran kebijakan kepada anggota melalui komentar publik.

“Kami mendorong anggota untuk melapor jika mereka menemukan perilaku mencurigakan seperti ini. Dengan begitu kami dapat meninjau dan mengambil tindakan yang tepat,” ujar perwakilan LinkedIn.

Modus serupa sebenarnya kerap terjadi. Pada 2023 misalnya, beberapa akun yang menyamar sebagai bank di Twitter, membalas keluhan pelanggan yang sebenarnya menyebut akun resmi dari bank aslinya.

Penipu lalu mengarahkan mereka untuk menghubungi nomor telepon yang sebenarnya tipu-tipu.

Pengguna pun diimbau untuk tetap waspada dan menghindari interaksi dengan komentar, balasan, atau chat pribadi yang tampak seperti LinkedIn, namun mendesak penerima untuk mengklik tautan eksternal.

Exit mobile version