Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi berharap agar Program Magang Nasional benar-benar bisa menekan angka pengangguran dan tak cuma mengejar jumlah peserta.
“Data BPS menunjukkan tingkat pengangguran terbuka lulusan perguruan tinggi ini masih relatif tinggi, 1 juta lebih,” kata Nurhadi dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR dengan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Nurhadi sendiri mengapresiasi program pemagangan yang diadakan pemerintah dengan target 100 ribu peserta. Namun menurutnya, cakupan program tersebut masih sangat terbatas jika dibandingkan jumlah lulusan yang ada.
Baca Juga: Ada Peserta Magang Nasional Dipalak Perusahaan
Ia juga menekankan pentingnya evaluasi berbasis dampak terhadap program magang nasional. Menurutnya, keberhasilan program tak cukup diukur hanya dari jumlah peserta saja.
“Outcome program pemagangan sering dinilai dari jumlah peserta, bukan dampaknya. Kita ingin tahu bagaimana mekanisme evaluasinya,” kata Nurhadi, mengutip laman resmi DPR RI.
Pada kesempatan itu, Nurhadi juga mengkritik kebijakan link and match antara perguruan tinggi dan industri yang dinilainya masih stagnan.
Dia menilai, belum ada indikator keberhasilan yang nyata, terutama ketika pengangguran sarjana justru meningkat.
Baca Juga: Rencana Magang Nasional Jadi Program Rutin, Kuota 100 Ribu di 2026
“Pemerintah terus menggembar-gemborkan link and match, tapi dengan data pengangguran sarjana yang meningkat, ini berarti belum ada indikator keberhasilan yang jelas,” kata politikus fraksi Partai Nasdem itu.
Nurhadi pun mempertanyakan sejauh mana koordinasi konkret antara Kementerian Ketenagakerjaan dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, dalam menyelaraskan lulusan dengan kebutuhan industri dalam negeri.
Legislator Dapil Jawa Timur VI itu juga menyoroti lonjakan angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Dia mengatakan, belum terlihat langkah konkret pemerintah dalam menahan laju PHK, di tengah tekanan ekonomi dan dinamika ketenagakerjaan nasional.
