Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

Tren

Demi AI, Sederet Raksasa Teknologi Ramai-Ramai Lakukan PHK di 2025

Ilustrasi Amazon lakukan PHK terhadap 180 lebih pekerja di divisi games.Ilustrasi Amazon lakukan PHK terhadap 180 lebih pekerja di divisi games.

TopCareer.id – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tengah melanda dunia kerja di tahun 2025. Beberapa perusahaan raksasa global pun melakukan pemangkasan dengan alasan penggunaan artificial intelligence (AI).

Bahkan, menurut konsultan Challenger, Gray & Christmas, AI disebut bertanggung jawab atas hampir 55 ribu PHK di Amerika Serikat, sepanjang 2025.

Massachusetts Institute of Technology (MIT) merilis studi pada November yang menunjukkan bahwa AI saat ini sudah mampu mengerjakan 11,7 persen pekerjaan di pasar tenaga kerja AS.

Studi ini juga menyebut bahwa AI berpotensi menghemat hingga USD 1,2 triliun biaya upah di sektor keuangan, kesehatan, dan layanan profesional lainnya.

Namun, Fabian Stephany, asisten profesor AI dan ketenagakerjaan di Oxford Internet Institute mengatakan kepada CNBC bahwa AI mungkin saja hanya dijadikan alasan semata.

Menurut Stephany, banyak perusahaan yang berkinerja baik selama pandemi merekrut karyawan secara berlebihan, dan PHK yang terjadi belakangan adalah bentuk “penyesuaian pasar.”

“Dalam beberapa hal, ini adalah pemecatan terhadap orang-orang yang sejak awal memang tidak memiliki prospek jangka panjang yang berkelanjutan,” kata Stephany, dikutip dari CNBC, Selasa (27/1/2026).

“Alih-alih mengakui bahwa mereka salah perhitungan dua atau tiga tahun lalu, perusahaan kini mencari kambing hitam dengan mengatakan ‘ini karena AI,'” imbuhnya.

Baca Juga: Bos Netflix Sebut AI Tak Bisa Gantikan Kreativitas, Kasih Contoh Taylor Swift

Adapun, berikut sejumlah perusahaan besar yang secara blak-blakan mengatakan AI sebagai bagian dari strategi PHK dan restrukturisasi di 2025:

  • Amazon

Pada Oktober, Amazon mengumumkan gelombang PHK terbesar dalam sejarah perusahaan dengan memangkas 14 ribu posisi karyawan korporat, seiring fokus investasi pada “taruhan terbesar” mereka, termasuk AI.

Beth Galetti, Senior Vice President of People Experience and Technology Amazon, dalam unggahan blog menulis bahwa AI memungkinkan perusahaan berinovasi jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Ia mengatakan, Amazon perlu beroperasi lebih ramping, dengan lebih sedikit lapisan manajemen dan tanggung jawab yang lebih besar, agar dapat bergerak cepat demi pelanggan dan bisnis.

CEO Amazon Andy Jassy sebelumnya juga memperingatkan bahwa AI akan menyusutkan jumlah tenaga kerja perusahaan.

Ia mengatakan, Amazon akan butuh lebih sedikit orang untuk beberapa pekerjaan yang ada saat ini, serta lebih banyak orang untuk jenis pekerjaan lainnya.

Microsoft

Sepanjang 2025, Microsoft mem-PHK sekitar 15 ribu pekerjaan, dengan pengumuman terbaru pada Juli yang menyasar 9.000 posisi.

Dalam memo internal, CEO Satya Nadella menulis bahwa perusahaan perlu menata ulang misinya untuk era baru, sembari menegaskan pentingnya peran AI bagi masa depan perusahaan.

Baca Juga: Menkomdigi Sebut 90 Juta Pekerjaan Baru Bakal Muncul karena AI

  • Salesforce

CEO Salesforce Marc Benioff mengonfirmasi pada September bahwa perusahaan telah memangkas 4.000 pekerja layanan pelanggan dengan bantuan AI.

“Saya sudah menguranginya dari 9.000 orang menjadi sekitar 5.000, karena saya membutuhkan lebih sedikit orang,” kata Benioff dalam wawancara di siniar The Logan Bartlett Show.

Benioff juga mengungkapkan bahwa AI saat ini telah mengerjakan hingga 50 persen pekerjaan di Salesforce.

  • IBM

CEO IBM Arvind Krishna mengungkapkan kepada Wall Street Journal pada Mei, bahwa chatbot AI sudah menggeser pekerjaan beberapa ratus staf sumber daya manusia.

Namun, Krishna mengakui IBM justru meningkatkan perekrutan di bidang yang membutuhkan pemikiran kritis, seperti rekayasa perangkat lunak, penjualan, dan pemasaran.

Pada November, IBM mengumumkan pemangkasan 1 persen tenaga kerja global, yang dapat berdampak pada hampir 3.000 karyawan.

  • CrowdStrike

Perusahaan keamanan siber CrowdStrike mengumumkan pada Mei bahwa mereka akan memangkas 5 persen tenaga kerja, atau sekitar 500 karyawan, dan secara langsung mengaitkan keputusan itu dengan AI.

“AI telah menjadi fondasi dari cara kami beroperasi,”tulis CEO dan co-founder George Kurtz dalam memo kepada investor.

Ia mengatakan, AI membuat rekrutmen mereka jadi lebih rata, serta membantu perusahaan berinovasi lebih cepat dari ide ke produk.

  • Workday

Pada Februari, platform HR Workday menjadi salah satu perusahaan pertama di 2025 yang mengumumkan pemangkasan 8,5 persen tenaga kerja, setara dengan sekitar 1.750 pekerjaan.

Pemangkasan ini merupakan bagian dari peningkatan investasi di bidang AI. CEO Workday Carl Eschenbach mengatakan, PHK diperlukan untuk memprioritaskan investasi AI dan membebaskan sumber daya perusahaan.

Leave a Reply