Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

Edukasi

Benarkah Modifikasi Cuaca Bikin Cuaca Tidak Stabil?

Ilustrasi Operasi Modifikasi Cuaca. (Dok: BMKG)

TopCareer.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bukan jadi pemicu cuaca yang tidak stabil.

Hal ini ditegaskan dalam merespon adanya anggapan yang menyebut bahwa jika dilakukan terus menerus, modifikasi cuaca berisiko dan bisa jadi bom waktu.

Narasi itu mengklaim, modifikasi cuaca berisiko membuat kondisi cuaca tidak stabil dan membentuk cold pool (kolam dingin), memindahkan atau menumpuk air di wilayah tertentu sehingga membuat banjir besar, dan memberikan rasa aman palsu.

BMKG menyatakan OMC merupakan upaya mitigasi bencana yang terukur dan berbasis sains. Langkah ini diambil sebagai respon paralel terhadap penurunan daya dukung lingkungan dan meningkatnya ancaman perubahan iklim.

BMKG menjelaskan, cold poll atau kolam dingin merupakan fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami.

“Fenomena ini terjadi saat air hujan menguap di bawah awan badai, mendinginkan udara, dan menciptakan massa udara padat yang jatuh ke permukaan,” tulis BMKG, dalam siaran persnya, ditulis Sabtu (31/1/2026).

Baca Juga: Potensi Hujan Lebat Jelang Akhir Januari 2026, BMKG Minta Warga Waspada

Setiap kali terjadi hujan secara alami, cold pool pasti terbentuk secara alami dan tanpa campur tangan manusia.

“Sehingga mengaitkan fenomena ini sebagai efek samping yang berbahaya dari OMC adalah kekeliruan sains,” kata BMKG

“Musababnya, OMC dengan teknik penyemaian awan (cold seeding) tidak menumbuhkan awan baru dan hanya bekerja pada awan yang sudah ada di alam,” imbuhnya.

Modifikasi bertujuan murni untuk mitigasi bencana, serta melindungi masyarakat dengan menambah atau mengurangi curah hujan, sehingga bukan pemicu cuaca tidak stabil.

BMKG melanjutkan, jika OMC berhasil mempercepat turunnya hujan, secara logis akan membentuk cold pool yang identik secara fisik maupun kimiawi dengan cold pool dari hujan alami.

Sementara soal skala energi, mereka menjelaskan bahwa teknologi manusia saat ini belum mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar.

Dalam modifikasi cuaca, manusia hanya memicu proses alami pada awan yang sudah jenuh (seperti yang dilakukan melalui modifikasi cuaca di Indonesia), alih-alih membangun sistem pendingin atmosfer raksasa.

Baca Juga: Kerja di Kantor Saat Musim Hujan, Lakukan 10 Tips Ini

Terkait narasi “memindahkan hujan ke wilayah tetangga dan berpotensi membuat banjir”, BMKG menjelaskan dua metode utama yang digunakan untuk melindungi wilayah strategis.

Pertama, Jumping Process Method, yaitu saat tim OMC mendeteksi suplai awan dari wilayah perairan seperti Laut Jawa atau Samudra Hindia melalui radar cuaca.

Awan tersebut kemudian disemai sebelum mencapai daratan, sehingga hujan turun lebih awal di wilayah laut.

Kedua adalah Competition Method, yang diterapkan pada awan yang tumbuh langsung di atas daratan (in-situ).

Penyemaian dilakukan sejak fase awal pertumbuhan untuk mengganggu proses perkembangan awan dan bukan menghilangkannya, agar tidak berkembang jadi awan Cumulonimbus besar dan berpotensi memicu hujan ekstrem.

Karena itu, BMKG menegaskan OMC dilakukan bukan untuk memindahkan hujan ke pemukiman lain.

Baca Juga: Tak Cuma ISPA, Ini Penyakit Lain yang Wajib Diwaspadai Saat Musim Hujan

Namun, BMKG sepakat bahwa kemampuan lingkungan dalam merespons air hujan yang jatuh menjadi faktor penting terjadi atau tidak terjadinya banjir.

Selain itu, hilangnya sekitar 800 situ di Jabodetabek sejak 1930-an menjadi faktor utama kurangnya daerah resapan, serta berpotensi menjadi pemicu banjir.

BMKG pun menyatakan bahwa penataan lingkungan sebagai respon terhadap penanganan banjir, menjadi hal paling utama yang harus dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Di sisi lain, pada saat bersamaan, secara paralel, juga dibutuhkan upaya mengurangi curah hujan seperti modifikasi cuaca, agar bisa diterima kondisi lingkungan saat ini.

BMKG juga mengatakan, tidak ada kepentingan pemerintah untuk menciptakan cuaca buruk yang merugikan ekonomi atau membahayakan warga.

“OMC adalah alat bantu untuk mengelola risiko cuaca di tengah keterbatasan daya tampung lingkungan,” pungkas lembaga tersebut.

Leave a Reply