TopCareer.id – Tahun Baru Imlek biasanya dirayakan dengan berkumpul keluarga. Namun, bagi banyak pekerja Indonesia, momen bersama itu juga bisa jadi pengingat masih banyak orang yang harus menanggung finansial keluarga.
Survei Sun Life menunjukkan, 90 persen pekerja Indonesia saat ini menopang orang tua sekaligus anak.
Dampaknya, 40 persen responden mengaku menurunkan ekspektasi gaya hidup saat pensiun dan 23 persen memperkirakan harus menunda atau tetap bekerja setelah usia pensiun.
Albertus Wiroyo, Presiden Direktur Sun Life Indonesia pun mengatakan, Imlek bukan cuma soal keberuntungan finansial, tapi juga keberlanjutan kesejahteraan.
“Semakin banyak orang Indonesia yang umurnya lebih panjang. Namun, terlalu banyak yang masih tidak yakin apakah mereka bisa pensiun dengan nyaman,” kata Albertus, mengutip siaran pers, Senin (16/2/2026).
Untuk itu, berikut lima refleksi finansial jelang Imlek yang dinilai relevan bagi generasi “sandwich“, menurut Sun Life:
Tanggung jawab keluarga adalah kekuatan, tapi perlu batas yang sehat
Tradisi mendukung orang tua adalah bagian kuat dari budaya Asia, termasuk Indonesia. Namun, data menunjukkan 71 persen responden masih membutuhkan tambahan penghasilan untuk menjaga stabilitas finansialnya sendiri.
Karena itu, menjaga keseimbangan antara bakti dan keberlanjutan finansial pribadi menjadi kunci agar dukungan untuk keluarga tidak mengorbankan masa depan sendiri.
Baca Juga: Sederet Festival Ramaikan Imlek di Jakarta, Cek Jadwalnya
Pensiun bukan lagi soal usia, tapi soal kesiapan
77 persen responden memperkirakan akan tetap bekerja setelah usia pensiun. Bagi sebagian orang, tetap bekerja usai pensiun adalah sebuah pilihan. Namun, tidak bagi sebagian lainnya
Imlek yang kerap dimaknai sebagai awal baru pun bisa jadi momen untuk mengevaluasi: apakah keputusan bekerja lebih lama adalah strategi sadar atau akibat belum adanya perencanaan?
Jangan tunda perencanaan hingga terlambat
Survei Sun Life mencatat, 24 persen responden mengaku belum punya rencana pensiun sama sekali, sementara 34 persen baru mulai merencanakan dalam dua tahun sebelum berhenti kerja.
Karena itu, perencanaan yang dimulai lebih awal memberikan ruang lebih besar untuk fleksibilitas di masa depan.
Baca Juga: Logo Imlek Nasional 2026 Usung Persatuan dan Kebudayaan
Bijak menggunakan informasi digital
Terdapat lonjakan penggunaan AI generatif untuk mencari informasi finansial, dari 30 persen menjadi 30 persen.
Mudahnya akses informasi memang membantu untuk memahami pilihan. Namun, keputusan jangka panjang tetap perlu pertimbangan menyeluruh.
Karena itu, mulailah tahun baru dengan literasi finansial yang lebih baik, sehingga bisa jadi resolusi yang konkret.
Kesehatan adalah aset jangka panjang
Sebanyak 58 persen responden yang merasa lebih optimistis terhadap pensiun menyebut kondisi fisik yang lebih baik sebagai alasan utama.
Di sisi lain, kesehatan yang menurun menjadi salah satu faktor percepatan pensiun bagi sebagian responden.
Albertus pun menegaskan, institusi keuangan kini punya pera penting untuk menyediakan panduan dan solusi untuk mengubah ketidakpastian menjadi pemberdayaan.
Institusi keuangan pun juga harus membantu masyarakat membangun masa depan, di mana pensiun dibentuk oleh peluang, bukan tekanan.













