TopCareer.id – Masih ada kesenjangan dalam tingkat penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada siswa dan pendidik serta orang tua di Indonesia.
Hal ini diungkap dalam pemaparan soal riset AI Ready ASEAN, yang dilakukan oleh ASEAN Foundation dengan dukungan Google.org, di Manila, Filipina beberapa waktu lalu.
Riset ini sendiri mengevaluasi kesiapan AI di sepuluh negara-negara anggota ASEAN dengan fokus pada komunitas pendidikan.
Riset ini menempatkan siswa, pendidik, dan orang tua sebagai key actors yang membentuk cara AI diadopsi, dipahami, serta dikelola.
Temuan riset mengungkapkan adanya kesenjangan yang konsisten antara tingginya tingkat penggunaan AI dengan kesiapan yang sebenarnya, terutama dalam hal literasi AI, pemahaman etika, dan dukungan institusional.
Saat siswa cenderung lebih cepat mengadopsi berbagai perangkat AI, pendidik dan orang tua masih menghadapi tantangan mulai dari kurangnya kepercayaan diri hingga keterbatasan bimbingan dan akses pelatihan yang terstruktur.
Baca Juga: Brand Mulai Pakai AI, Peran Customer Service Manusia Masih Penting
Berdasarkan hasil riset, tingkat penggunaan AI di kalangan siswa di Indonesia tergolong sangat tinggi, dengan 95,25 persen responden melaporkan telah menggunakan model AI generatif.
Sementara itu, angka penggunaan di kalangan pendidik (46,20 persen) dan orang tua (62,19 persen) masih lebih rendah, yang menunjukkan adanya kesenjangan penggunaan antar generasi.
Riset ini juga mencatat bahwa pendidik lebih lambat dalam menggunakan jenis perangkat AI lainnya (27,29 persen) dibanding siswa (53,25 persen).
Temuan itu menegaskan bahwa siswa cenderung lebih cepat mengadopsi teknologi ini.
Selain itu, kurang dari separuh pendidik menyatakan bahwa institusi mereka telah menyediakan panduan kebijakan AI, dukungan keamanan siber, maupun pelatihan yang memadai.
Marija Ralic, Kepala Google.org Asia Pasifik mengatakan, akses terhadap perangkat AI saja tidak cukup.
Baca Juga: Era Baru Rekrutmen Pekerja, AI Mulai Ambil Peran Penting
“Kesiapan yang sesungguhnya menuntut pemahaman tentang cara kerja AI, batasan-batasannya, serta bagaimana teknologi ini dapat digunakan secara etis,” ujarnya, mengutip siaran pers, Jumat (20/2/2026).
“Temuan ini menegaskan pentingnya investasi dalam literasi AI, terutama bagi pendidik dan komunitas, agar kemajuan teknologi benar-benar dapat diterjemahkan menjadi peluang yang inklusif bagi semua,” ia menambahkan.
ASEAN Foundation dalam laporan bertajuk ASEAN Digital Outlook juga memberikan penilaian regional mengenai infrastruktur digital dan AI, tata kelola, serta kesiapan keamanan siber di negara-negara anggota ASEAN.
Meskipun sejumlah negara telah menunjukkan kemajuan dalam memperkuat infrastruktur digital, studi ini juga menyoroti ketimpangan pada tingkat kematangan digital dan kapasitas institusional di kawasan ASEAN.
Kesenjangan masih ditemukan di keterampilan digital, kepercayaan publik, kesiapan siber, dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab, yang mempertegas keterbatasan dari pendekatan nasional yang bersifat fragmentasi.
Penggunaan AI di ASEAN Berkembang Jauh Lebih Cepat
Piti Srisangnam, Direktur Eksekutif ASEAN Foundation menyebut, penggunaan AI di ASEAN berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem untuk mengarahkannya.
“Studi ini menggeser fokus pembahasan dari sekadar apakah AI sudah digunakan, menjadi apakah institusi, pendidik, dan masyarakat benar-benar siap,” ujarnya.
Srisangnam mengatakan, temuan ini penting untuk merancang kebijakan yang melindungi kepercayaan publik, memperkuat keterampilan, serta memastikan AI memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan hanya bagi ekonomi.
Baca Juga: Tak Cuma Cari Informasi, AI Juga Jadi Teman Curhat Saat Liburan
Temuan kedua studi ini menunjukkan bahwa di seluruh kawasan ASEAN, adopsi AI dan teknologi digital melaju lebih cepat dibandingkan kesiapan institusi, etika, maupun masyarakat.
Kelompok siswa menjadi pengguna perangkat AI yang paling aktif, sementara para pendidik dan orang tua memiliki tingkat kepercayana diri dan literasi yang lebih rendah.
Selain itu, masih terdapat peningkatan berbagai risiko seperti penipuan online, penipuan berbasis deepfake, misinformasi, hingga kebocoran data.
Risiko-risiko ini kian mengikis kepercayaan terhadap sistem digital serta mempertegas urgensi akan kerangka tata kelola yang lebih kuat.
