TopCareerID

Tak Cuma Puasa, Ramadan Momen Tepat Jauhi Perilaku Konsumtif

Ilustrasi belanja online. (Gambar oleh Adrian dari Pixabay)

TopCareer.id – Bulan Ramadan tak cuma jadi momen yang tepat untuk melatih pengendalian diri dengan puasa makan dan minum, tapi juga waktu yang baik untuk menahan perilaku konsumtif.

Pakar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University Megawati Simanjuntak mengatakan, Ramadan bisa jadi periode rawan seseorang melakukan pembelian secara berlebihan.

Menurutnya, ini berlawanan dengan esensi puasa yang sebenarnya mengajarkan kesederhanaan.

Overbuying adalah perilaku membeli barang atau jasa secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Perilaku ini sering terjadi saat Ramadan dan lebih banyak membawa dampak negatif,” katanya.

Mengutip laman resmi IPB University, Jumat (20/2/2026), perilaku konsumtif kerap terlihat jelang waktu berbuka puasa. Seringkali, banyak hidangan yang disajikan mulai dari makanan berat hingga aneka takjil.

Baca Juga: Segudang Manfaat Kurma Buat Jaga Kesehatan di Bulan Puasa

“Seringkali makanan yang tersedia di meja berbuka jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan tubuh. Ini tidak baik, baik dari sisi kesehatan maupun pengeluaran,” kata Megawati.

Kondisi “lapar mata” setelah seharian berpuasa juga berisiko menimbulkan keinginan untuk membeli banyak makanan. Bukan karena butuh, namun akibat dorongan emosional sesaat.

Perilaku konsumtif juga rentan muncul jelang Idulfitri. Masyarakat biasanya terdorong membeli berbagai kebutuhan tambahan mulai dari pakaian baru, hidangan khas lebaran, hingga aneka kue kering.

Supaya terhindar dari perilaku konsumtif selama Ramadan, ada beberapa saran yang diberikan Megawati.

Dia menekankan pentingnya manajemen dan perencanaan keuangan, salah satunya dengan menyusun daftar kebutuhan sebelum berbelanja.

Baca Juga: Alasan Ramadan Jadi Momen Tepat Buat Berhenti Merokok

Selain itu, jangan gampang tergoda saat buka puasa dan membeli makanan secara berlebihan. Menurut Megawati, Ramadan harusnya jadi momen untuk memperbanyak kebaikan, bukan sekadar mengikuti keinginan sesaat.

Masyarakat juga diimbau untuk menahan diri dari konsumsi berlebihan agar tidak mengganggu kekhusyukan ibadah.

Saran lainnya adalah dengan membatasi aktivitas di media sosial dan e-commerce, yang bisa memicu perasaan fear of missing out (FOMO), terutama penjualan melalui live streaming.

Megawati mengajak masyarakat supaya tidak gampang terpancing embel-embel “limited edition” atau diskon besar, karena hal ini biasanya hanya strategi pemasaran.

“Belanja secukupnya sesuai kebutuhan adalah pilihan yang lebih bijak,” pungkasnya.

Exit mobile version