Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

ProfesionalTren

Conscious Unbossing: Kala Gen Z Ogah Jadi Manajer

Ilustrasi pekerja perempuan Indonesia tempat posisi 10 yang mampu mencapai posisi manajer senior.Ilustrasi pekerja perempuan. (Pexels)

TopCareer.id Gen Z tampaknya tidak terlalu termotivasi untuk naik jabatan sebagai manajer tingkat menengah. Fenomena ini pun punya istilah yaitu Conscious Unbossing.

Survei dari Robert Walters North mencatat, lebih dari setengah profesional muda Gen Z tidak tertarik pada peran manajemen tradisional. Ketimbbang mengejar otoritas, mereka lebih memilih keahlian.

Lucy Bisset, Direktur Robert Walters North, dalam sebuah diskusi di 2024 lalu menyebut, ini bukan berarti Gen Z tidak menghormati kepemimpinan.

“Namun mereka mengaitkan manajemen dengan stres, kebebasan yang terbatas, dan work-life balance yang buruk,” kata Bisset, mengutip Forbes, Kamis (26/2/2026).

Menurut riset tersebut, perusahaan di seluruh Inggris mencatat bahwa 52 persen profesional Gen Z secara sengaja menghindari posisi manajemen.

Selain itu, sebanyak 69 persen memandang manajemen tingkat menengah dengan stres yang tinggi dan imbalan yang minim.

Selama ini, manajemen menengah berperan sebagai penghubung utama antara pimpinan senior dan karyawan di lini depan.

Jika suara Gen Z diabaikan, ancaman krisis talenta dan suksesi kepemimpinan bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan tinggal menunggu waktu.

Baca Juga: Banyak Pekerja Alami ‘Quiet Cracking’, Apa Itu?

Dengan penuaan organisasi dan masyarakat yang makin cepat, mengabaikan fenomena ini bisa berdampak buruk.

Dalam fenomena ini, muncul istilah Conscious Unbossing, yang menggambarkan perubahan dinamikan di tempat kerja. Konsep ini mirip dengan istilah populer lain seperti Quiet Quitting dan Bare Minimum Mondays.

Ogahnya Gen Z untuk menaiki tangga karier tradisional bukan cuma preferensi pribadi, tapi bagian dari gerakan yang lebih luas menjauhi struktur kepemimpinan hierarkis.

Bisset menjelaskan bahwa Gen Z tetap ingin berkembang, tetapi tidak melalui jalur manajemen tradisional. Mereka lebih memprioritaskan peningkatan keterampilan pribadi dan profesional dibandingkan mengelola tim.

Sebanyak 72 persen profesional Gen Z lebih memilih memajukan karier lewat pengembangan keahlian individu, daripada masuk ke manajemen orang.

Saat pengaruh dianggap berasal dari keahlian dan bukan jabatan, ini juga memperlihatkan keinginan Gen Z akan kebebasan atau otonomi, fleksibilitas, dan dampak langsung.

Baca Juga: Pekerja Gen Z Paling Tak Bahagia di Dunia Kerja Indonesia

Conscious Unbossing juga bukan penolakan terhadap kepemimpinan, melainkan penolakan terhadap jalur manajemen tradisional sebagai satu-satunya definisi pemimpin.

Bagi perusahaan dan pimpinan senior, pergeseran ini pun jadi tantangan tentang bagaimana menciptakan peluang kepemimpinan jika banyak pekerja muda tidak tertarik pada peran manajemen tradisional.

Menurut Bisset, jawabannya adalah dengan menciptakan jalur alternatif menuju kepemimpinan yang fokus pada keahlian, bukan hierarki.

Profesional muda ingin menjadi thought leader dan spesialis, membangun personal brand, mengembangkan keahlian khusus, dan terlibat dalam proyek bermakna.

Studi McKinsey juga menunjukkan, perusahaan yang memberi ruang bagi karyawan berkembang melalui keahlian individu tanpa harus masuk manajemen, memiliki tingkat keterlibatan dan retensi yang lebih tinggi.

Perusahaan yang beradaptasi dengan menciptakan peran berbasis keahlian, kepemimpinan proyek, dan inovasi, juga berpotensi menarik banyak calon pemimpin masa depan.

Leave a Reply