TopCareerID

Bos Microsoft Ramal AI Bisa Garap Mayoritas Pekerjaan Kantoran dalam 18 Bulan

Mustafa Suleyman, CEO Microsoft AI. (https://mustafa-suleyman.ai/)

TopCareer.id – Bos divisi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) Microsoft memperkirakan bahwa tak lama lagi, sebagian besar pekerjaan kantoran (white-collar) akan bisa dilakukan oleh AI.

Mustafa Suleyman, CEO Microsoft AI, memprediksi bahwa sebagian besar, bahkan hampir semua, tugas di bidang white-collar akan diotomatisasi oleh AI dalam satu hingga 1,5 tahun ke depan.

Kepada Financial Times, dikutip dari Business Insider, Jumat (27/2/2026). menyebut, ia mengatakan AI mungkin bakal mencapai performa setara manusia pada sebagian besar tugas profesional, jika tidak semua.

“Pekerjaan kantoran, di mana Anda duduk di depan komputer, entah sebagai pengacara, akuntan, manajer proyek, atau tenaga pemasaran, sebagian besar tugas itu akan sepenuhnya diotomatisasi AI dalam 12 hingga 18 bulan ke depan,” katanya.

Menurut Suleyman, tren sudah terlihat dalam bidang rekayasa perangkat lunak, di mana para karyawan memakai coding yang dibantu AI dalam sebagian besar produksi kode mereka.

“Ini hubungan yang sangat berbeda dengan teknologi, dan itu terjadi dalam enam bulan terakhir,” ujarnya.

Baca Juga: Brand Mulai Pakai AI, Peran Customer Service Manusia Masih Penting

AI memang telah berkembang pesat dalam lima tahun terakhir, serta membawa perubahan yang terlihat dalam pekerjaan kantoran.

Business Insider baru-baru ini melaporkan bahwa “AI fatigue” melanda dunia rekayasa perangkat lunak.

Teknologi ini memang meningkatkan produktivitas, tetapi juga memicu kelelahan karena pekerja diminta menangani lebih banyak pekerjaan sekaligus.

Microsoft sendiri merupakan salah satu perusahaan yang paling mendorong penggunaan AI di tempat kerja. Mereka membangun produk-produk seperti Copilot, serta berinvestasi di OpenAI dan Anthropic.

Dario Amodei, CEO dan salah satu pendiri Anthropic, sebelumnya mengatakan AI dapat menghapus setengah dari pekerjaan kantoran entry-level.

“Kami, sebagai pembuat teknologi ini, punya tanggung jawab dan kewajiban untuk jujur tentang apa yang akan datang,” kata Amodei kepada Axios. “Saya rasa ini belum benar-benar disadari banyak orang.”

Baca Juga: Demi AI, Sederet Raksasa Teknologi Ramai-Ramai Lakukan PHK di 2025

Menanggapi pernyataan Suleyman, Senator Bernie Sanders dari Vermont mengatakan bahwa jika prediksi bos Microsoft itu benar, hal tersebut akan jadi “gempa ekonomi.”

“Kita perlu moratorium pembangunan pusat data AI yang baru untuk memastikan AI bekerja untuk para pekerja, bukan hanya untuk para miliarder,” ujarnya.

Sebelumnya, Sanders pernah menyerukan moratorium pusat data pada Desember 2025. Namun, gagasan tersebut kecil kemungkinan untuk diwujudkan.

Raksasa-raksasa teknologi sudah menghabiskan ratusan miliar dolar untuk pusat data pada 2025, di mana Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut mendorong pembangunannya.

Exit mobile version