TopCareerID

Benarkah Semprot Parfum di Leher Berisiko Kanker Tiroid?

TopCareer.id – Menyemprot parfum biasanya dilakukan di beberapa titik seperti bahu, tangan, dan area leher, di mana kebiasaan ini disebut akan membuat wangi jadi lebih tahan lama.

Namun, belakangan muncul pernyataan yang menyebutkan kebiasaan menyemprot parfum di area leher juga terkait dengan risiko gangguan hormon dan kanker tiroid.

Beberapa pernyataan mengklaim bahwa menyemprot parfum di area leher berpotensi memengaruhi kelenjar tiroid dan dikaitkan dengan risiko gangguan hormon hingga kanker tiroid.

Agil Wahyu Wicaksono, pakar Multiomics Cancer di IPB University mengatakan, secara ilmiah terdapat indikasi hubungan antara penggunaan parfum dan gangguan kelenjar tiroid.

Walau begitu, kata Agil, kaitannya dengan kanker tiroid belum terbukti secara langsung.

Baca Juga: 4 Tips Beli Parfum Secara Online

“Berdasarkan sebuah studi tinjauan sistematis, kebiasaan menyemprotkan parfum, termasuk di area leher, berkaitan dengan risiko gangguan kelenjar tiroid,” ujarnya, dikutip dari laman IPB University.

“Adapun hubungan dengan kanker tiroid masih bersifat hipotesis dan belum terbukti secara langsung,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, parfum atau cologne biasanya mengandung bahan-bahan kimia seperti phthalates, parabens, dan triclosan. Bahan-bahan ini berpotensi mengganggu sistem hormonal atau sebagai endocrine disruptors.

“Beberapa penelitian menunjukkan bahwa triclosan dapat memengaruhi fungsi hormon tiroid, sementara sejumlah paraben juga berdampak pada keseimbangan sistem endokrin tubuh,” kata Agil.

Ia menambahkan, bahan-bahan ini dapat diserap melalui kulit, dengna tingkat penyerapan dipengaruhi area pemakaian, frekuensi, serta durasi penggunaan.

Menurut Agil, area leher secara anatomis berada dekat dengan kelenjar tiroid dan memiliki kulit yang relatif tipis.

“Sehingga paparan phthalates, paraben, dan triclosan yang berulang di lokasi ini secara teoritis dapat meningkatkan peluang efek zat tersebut secara lokal maupun sistemik,” ia menjelaskan.

Baca Juga: 11 Tips Pakai Parfum Biar Wanginya Tahan Lama

Namun, Agil menegaskan dampak tersebut tidak terjadi dengan cepat atau instan dan umumnya berlangsung perlahan. Selain itu, tidak semua pengguna parfum bakal mengalami gangguan kesehatan.

Namun, pemakaian berlebihan dan terus-menerus selama bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko gangguan hormon, terutama pada ibu hamil, anak-anak dan remaja, serta orang dengan gangguan hormon sebelumnya.

Untuk mengurangi risiko kesehatan jangka panjang, Agil mengingatkan masyarakat untuk tetap bijak dalam menggunakan parfum.

Dia mengatakan, masyarakat bisa menyemprotkan parfum pada pakaian, bukan langsung ke kulit. Selain itu, hindari pemakaian rutin di area leher dan ketiak, serta pakailah parfum secukupnya.

Jika memungkinkan, pilih produk dengan label “phthalate-free” atau “paraben-free.

Exit mobile version