TopCareer.id – Di momen Ramadan atau jelang Lebaran, masyarakat kerap disuguhkan berbagai promo dan diskon. Jika tidak dikendalikan, godaan ini bisa berubah menjadi perilaku konsumtif atau pembelian berlebihan.
Megawati Simanjuntak, Pakar Perilaku Konsumen IPB University mengatakan, overbuying jelas berlawanan dengan esensi berpuasa yang sesungguhnya mengajarkan kesederhanaan.
“Overbuying adalah perilaku membeli barang atau jasa secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya,” kata Megawati, dikutip dari laman resmi IPB University, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, perilaku ini sering terjadi saat Ramadan dan lebih banyak membawa dampak negatif.
Baca Juga: Ramadan Ubah ‘Peak Hour’ KRL: Orang Berangkat Lebih Pagi, Pulang Lebih Cepat
Salah satu perilaku konsumtif yang sering terlihat contohnya adalah jelang berbuka puasa. Orang sering menyiapkan hidangan secara berlebihan tapi malah berujung jadi makanan sisa.
“Sering kali makanan yang tersedia di meja berbuka jumlahnya jauh melebihi yang diperlukan tubuh. Ini tidak baik, baik dari sisi kesehatan maupun pengeluaran,” kata Megawati.
Ia menjelaskan, kondisi lapar setelah seharian berpuasa kerap memicu apa yang disebut “lapar mata.” Keinginan untuk membeli banyak makanan muncul bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan emosional sesaat.
Perilaku konsumtif juga bisa muncul jelang Lebaran. Masyarakat terdorong untuk membeli berbagai barang tambahan mulai dari pakaian baru, hidangan khas, hingga aneka kue dengan berlebihan.
Tekanan konsumsi juga semakin besar akibat pengaruh media sosial. Tren dan fenomena fear of missing out (FOMO) membuat masyarakat merasa perlu ikut membeli barang yang sedang viral.
“Ketika ada tren tertentu, orang merasa harus ikut beli meski sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Contohnya tren busana lebaran yang hanya dipakai sekali, lalu tidak digunakan lagi.”
Baca Juga: Bolehkah Olahraga Lari Saat Puasa Ramadan?
Megawati pun menegaskan, agar nilai Ramadan tetap terjaga, masyarakat perlu membekali diri dengan perencanaan keuangan yang baik.
Cobalah membuat daftar kebutuhan sebelum berbelanja dan menahan diri dari pembelian impulsif.
Ia mengingatkan, jangan sampai lapar mata membuat kita membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan dan bahkan cenderung berlebihan.
“Perlu diingat, Ramadan bukan hanya soal konsumsi, tapi momentum untuk berlomba-lomba dalam ibadah, kebaikan dan melatih pengendalian diri,” ujarnya.
Ramadan juga bisa jadi momen untuk hidup lebih sederhana dan bijak berbelanja.
Menurut Megawati, mengendalikan konsumsi tidak hanya membantu menjaga kesehatan dan keuangan keluarga, tetapi juga mengurangi pemborosan makanan serta dampak buruk bagi lingkungan.
“Kalau kita bisa menahan diri saat belanja, kita bukan cuma lebih sehat dan hemat, tapi juga ikut membangun kebiasaan hidup yang lebih baik,” pungkasnya.











