Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

Lifestyle

Benarkah Earphone Bluetooth Berbahaya untuk Otak?

Ilustrasi earphone bluetooth. (Gambar dibuat dengan AI Gemini)

TopCareer.id – Ada klaim yang menyebut bahwa earphone Bluetooth berbahaya bagi otak, karena efek radiasi. Namun, hal itu dibantah oleh pakar IPB University.

Widya Eka Nugraha, dosen Ilmu Biomedik Biologi Sel dan Molekuler, IPB University mengatakan, dari sudut pandang medis, sampai sekarang belum ada bukti ilmiah yang konsisten soal penggunaan earphone Bluetooth bisa merusak otak manusia.

“Tidak semua radiasi berbahaya bagi tubuh manusia, karena dampaknya bergantung pada jenis radiasi, besar paparan, durasi, serta jaraknya,” kata Widya, dikutip dari laman IPB University, Senin (9/3/2026).

Bluetooth memancarkan gelombang radio atau radio frequency (RF) yang termasuk radiasi non-ionisasi. Radiasi ini berbeda dengan radiasi pengion seperti sinar X (X-ray) atau sinar gamma, yang diketahui bisa merusak DNA pada dosis tertentu.

Widya menjelaskan, pada paparan RF, mekanisme efek biologis yang terjadi adalah pemanasan jaringan (thermal effect).

Baca Juga: Alasan Kurma dan Tempe Cocok Dikonsumsi di Bulan Ramadan

“Sejauh ini, alat bluetooth yang beredar di pasaran memenuhi standar keamanan dan tidak memberikan efek yang signifikan terhadap jaringan tubuh manusia,” jelasnya.

Mengutip tinjauan sistematis Karipidis, dkk (2024) mengenai paparan RF dan risiko kanker, termasuk tumor otak, di situ disebutkan bahwa paparan dari penggunaan ponsel kemungkinan tidak meningkatkan risiko kanker otak.

Selain itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2010 juga menyatakan bahwa riset tidak menunjukkan bukti konsisten adanya dampak kesehatan merugikan dari paparan RF pada level di bawah batas aman.

Ketimbang radiasi, Widya menekankan bahwa risiko kesehatan yang wajib diwaspadai malah terkait dengan pola penggunaan earphone. Gangguan pendengaran karena volume terlalu keras dan durasi lama paling sering ditemui di layanan klinik.

Selain itu, terdapat risiko infeksi telinga luar apabila earphone dipakai lama dalam kondisi lembap, jarang dibersihkan, atau digunakan bergantian.

Ada juga potensi gangguan fokus dan keselamatan saat berkendara atau beraktivitas di ruang publik, karena pengguna bisa kehilangan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar.

Baca Juga: Benarkah Semprot Parfum di Leher Berisiko Kanker Tiroid?

Keluhan muskuloskeletal dan kelelahan juga dapat terjadi akibat kebiasaan menunduk lama serta screentime panjang turut menjadi perhatian.

Terkait studi Zhou, dkk (2024) yang mencoba mengaitkan penggunaan headphone bluetooth dengan luaran tertentu seperti benjolan kelenjar gondok, Widya menilai desain penelitian itu sulit membuktikan hubungan sebab-akibat. Karena itu, perlu kehati-hatian dalam interpretasinya.

Sebagai langkah pencegahan dari risiko kesehatan, Widya pun menyarankan penggunaan volume secukupnya, membatasi durasi dengan jeda teratur, menjaga kebersihan earphone, serta mengutamakan keselamatan.

“Bila telinga nyeri, gatal berat, keluar cairan, berdenging menetap, atau pendengaran menurun, hentikan sementara dan periksa ke dokter,” ujar Widya.

Ia juga menganjurkan penggunaan earphone dengan konduksi tulang (bone conduction) dalam situasi tertentu.

Leave a Reply