TopCareer.id – Banyak orang gagal mencapai target yang ia tetapkan dalam resolusi tahun baru.
Ahli saraf Anne-Laure Le Cunff mengatakan, target yang bersifat lurus dan kaku memang populer karena memberikan seseorang “ilusi kepastian.”
“Tujuan-tujuan itu membuat kita merasa seolah memegang kendali, karena kita berpikir bahwa jika kita punya visi yang jelas dan rencana yang jelas, lalu menjalankan rencana itu, maka kita akan berhasil,” kata Le Cunff.
Namun, kehidupan nyata jarang berjalan sesuai rencana. Sehingga, banyak orang yang gagal mencapai targetnya lalu mengulang resolusi tahun baru secara terus menerus setiap tahunnya, tanpa benar-benar membuat kemajuan.
Dilansir CNBC Make It, dikutip Senin (5/1/2026), Le Cunff pun menyarankanmu untuk memiliki target dengan pola pikir yang eksperimental.
Ini seperti ilmuwan yang mengumpulkan data lalu menyesuaikan langkah berikutnya. Menurutnya, kita pun bisa melakukan hal yang sama dalam karier dan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Cara Biar Resolusi Tahun Baru Tak Berakhir Wacana
Le Cunff pun merekomendasikan untuk melakukan “eksperimen kecil” dengan kebiasaan yang ingin dicoba, ketimbang membuat tujuan besar yang terlalu tinggi dan tidak realistis.
Dia mengatakan, kamu bisa menggunakan “rumus” seperti: “Aku akan (melakukan X) selama (Y).”
Misalnya, “Aku akan menulis 250 kata setiap hari selama dua minggu,” atau “Aku akan berjalan kaki saat jam makan siang setiap hari selama satu bulan.”
Salah satu yang disarankan Le Cunff dan menjadi favoritnuya adalah, “Aku tidak akan membawa ponsel ke kamar tidur selama satu minggu.”
Le Cunff menambahkan, eksperimen kecil yang baik memenuhi empat kriteria: punya tujuan, bisa dilakukan, dijalankan secara konsisten, dan bisa dilacak.
Supaya punya tujuan, eksperimen harus benar-benar dilakukan karena kamu penasaran. Bisa dilakukan berart dapat langsung mencobanya dengan kondisi dan sumber daya yang ada sekarang.
Baca Juga: Resolusi Hidup Sehat Jadi Pilihan Warga AS di 2026
Sementara, menjalankannya dengan konsisten penting supaya kamu punya cukup “data” untuk dievaluasi, dan melacak kebiasaanmu membantu melihat apakah strategi tersebut cocok denganmu atau tidak.
Yang terpenting, kata Le Cunff, adalah menahan penilaian sampai eksperimen selesai. Rasa tidak nyaman saat mencoba hal baru itu wajar dan justru menjadi bagian dari proses belajar.
Setelah eksperimen berakhir, kamu bisa memutuskan apakah ingin menjadikan tindakan tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Eksperimen bisa menjadi gerbang untuk menemukan kebiasaan baru yang benar-benar cocok untukmu,” ujar Le Cunff.
Ia menambahkan, kita kerap tergoda mengejar tujuan yang lebih besar, lebih keren, dan kelihatan ambisius.
Padahal, target-target seperti “Saya mau olahraga setiap hari sepanjag tahun” atau “Aku mau baca satu buku setiap seminggu” sering terasa terlalu berat dan sulit dijaga.
Baca Juga: 5 Resolusi Tahun Baru yang Bisa Bikin Hidup Lebih Sehat
Selain itu, mengumbar target besar kita ke orang lain memang memberikan lonjakan dopamin sesaat. Namun, motivasi untuk benar-benar menjalankannya justru bisa menurun.
Menurut Le Cunff, ini terjadi karena kita sudah keburu mendapatkan “hadiah” berupa pujian seperti: “Wah kamu hebat, kamu ambisius.”
Sebaliknya, target yang lebih sederhana seperti “Aku akan jogging dua kali seminggu selama satu bulan” mungkin terdengar biasa saja.
Namun justru di situlah letak keuntungannya, karena kamu bisa mendapatkan kepuasan yang sehat di akhir karena benar-benar menuntaskannya.
Maka dar itu, eksperimen kecil membantu kita bergeser dari pola pikir yang terobsesi hasil menuju pola pikir yang penuh rasa ingin tahu.
Le Cunff mengatakan, dengan cara ini, keberhasilan bukan lagi soal mencapai target tertentu, melainkan tentang belajar dan memahami diri sendiri dengan lebih baik.













