Find Us on Facebook

Subscribe to Our Channel

https://www.youtube.com/@topcareertv1083

Edukasi

Wamendikti: Musik Bermanfaat untuk Otak

Music and Brain diselenggarakan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-kura Bali, Minggu (11/1/2026). (Dok: Kemdiktisaintek)

TopCareer.id – Musik secara ilmiah punya manfaat bagi otak dan kesehatan.

Hal ini seperti diangkat dalam acara bertajuk “Music and Brain” yang diselenggarakan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-kura Bali, Minggu (11/1/2026).

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie mengatakan, berdasarkan penelitian, musik membutuhkan proses otak serta berpengaruh bagi otak dan kesehatan.

Selain itu, musik juga bisa menjadi sarana persatuan bagi masyarakat Indonesia.

“Musik membawa persatuan bagi Indonesia, dan masyarakat Indonesia benar-benar mencintai musik dengan segala variasi dan keindahannya sebagai bagian dari budaya kita,” kata Stella, mengutip laman resmi, Senin (19/1/2026).

Menurut Charles Limb dari University of California, San Francisco (UCSF), dalam perspektif neurosains, musik punya peran yang lebih dari sekadar hiburan.

Baca Juga: Cara Ampuh Jaga Kesehatan Otak

Menurutnya, keberadaan musik di hampir seluruh budaya manusia menunjukkan bahwa musik memiliki makna biologis yang mendasar, khususnya dalam kaitannya dengan kesehatan mental dan hubungan sosial.

“Semua budaya sepanjang keberadaan manusia pada dasarnya memiliki musik. Keberadaannya sepanjang sejarah manusia menyiratkan bahwa musik penting pada tingkat biologis yang sangat mendasar,” kata Limb.

Masyarakat pun didorong untuk terlibat dalam aktivitas bermusik untuk menjaga kesehatan otak, tanpa menekankan kemampuan teknis atau tujuan tampil, namun lebih pada proses berpikir musikal yang bermanfaat bagi fungsi otak.

Xiaoqin Wang, Director of Tsinghua Lab of Brain and Intelligence mengatakan, kolaborasi lintas budaya dalam penelitian otak dan kecerdasan juga penting.

Menurutnya, perbedaan latar belakang budaya dan lingkungan menjadi faktor penting dalam memahami cara kerja otak manusia. Dia menjelaskan, ada banyak area potensial untuk kolaborasi dalam neurosains dan penelitian otak.

“Ketika kita melihat individu yang hidup dalam lingkungan budaya yang berbeda di Tiongkok dan Indonesia, otak kita mencerminkan budaya dan latar belakang yang berbeda,” kata Wang.

Baca Juga: 7 Gaya Hidup Ini Bisa Tingkatkan Risiko Stroke Otak

Ia menambahkan, dengan berkolaborasi dengan ilmuwan, musisi, dan dokter di Indonesia, mereka percaya kita bisa memahami lebih dalam apa yang membuat otak beradaptasi dengan lingkungan budaya yang berbeda.

Wang lebih lanjut menyebut, pesatnya perkembangan teknologi di Tiongkok dapat memperkuat kerja sama penelitian dengan Indonesia.

Sementara itu, keragaman budaya, kondisi geografis, dan konteks sosial Indonesia dinilai memberikan peluang unik dalam studi neurosains.

Kolaborasi ini juga membuka akses bagi peneliti Indonesia terhadap teknologi, komputasi, dan kecerdasan buatan untuk mendorong pengembangan riset berbasis komunitas.

Ajang tahunan Music and Brain Kemdiktisaintek ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman hubungan sains dan teknologi di Indonesia dengan bidang kesenian khususnya musik dan bidang neurologi.

Acara ini juga diharapkan mampu meningkatkan pemahaman publik mengenai manfaat musik terhadap otak dan kesehatan.

Leave a Reply