TopCareer.id – Puncak musim hujan di Indonesia awal tahun 2026 dinilai karena adanya anomali pola hujan, yang disebabkan berbagai faktor.
Sonni Setiawan, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, IPB University menyebut, tingginya intensitas hujan di sejumlah wilayah, khususnya Pulau Jawa, memang mengikuti monsun Asia, namun dengan frekuensi yang cukup intens.
“Ini yang kemudian berdampak pada banjir, penurunan suhu udara, angin kencang, hingga keluhan kesehatan,” kata Sonni, mengutip laman resmi IPB University, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, hasil pengamatan citra satelit dan pemantauan cuaca harian menunjukkan adanya indikasi faktor atmosfer lain yang berperan mengamplifikasi curah hujan monsun Asia pada awal 2026.
“Berdasarkan pola-pola yang saya peroleh dari data pengamatan, saya menduga adanya faktor lain yang memperkuat curah hujan monsun, yaitu fenomena CENS (Cross Equatorial North Surge),” ujar Sonni.
Baca Juga: Kerja di Kantor Saat Musim Hujan, Lakukan 10 Tips Ini
CENS adalah pergerakan massa udara dingin dari wilayah China selatan yang mampu melintasi garis ekuator dan bergerak hingga ke wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa. Fenomena ini dinilai berdampak signifikan pada kondisi cuaca.
“CENS ini tidak hanya menyebabkan penurunan suhu udara, tetapi juga meningkatkan pembentukan awan. Hal ini terjadi akibat pertemuan udara dingin dan kering dari China selatan dengan udara tropis yang hangat dan lembap,” kata Sonni.
Saat dua massa udara dengan karakter suhu berbeda bertemu, terjadi proses penyesuaian menuju keseimbangan termal.
Udara tropis yang hangat dan lembap mengalami penurunan suhu, sehingga uap air di dalamnya mengalami pendinginan dan kondensasi. Sonni mengatakan, proses kondensasi ini menghasilkan awan-awan yang lebih banyak.
“Akibatnya, sinar matahari sulit mencapai permukaan bumi, sehingga udara di antara permukaan dan dasar awan mengalami pendinginan,” Sonni menjelaskan.
Secara potensi, kata Sonni, kondisi ini dinilai mirip dengan peristiwa banjir besar yang terjadi di Semarang pada 5 pada 6 Februari 2021 lalu.
Baca Juga: Tak Cuma ISPA, Ini Penyakit Lain yang Wajib Diwaspadai Saat Musim Hujan
Adapun berdasarkan citra cuaca terkini, Pulau Jawa tampak tertutup awan tebal, dengan aliran CENS dari China selatan hingga Jawa masih aktif.
“Selain itu, juga terpantau adanya siklon tropis di tenggara Pulau Jawa. Kombinasi ini berpotensi memperburuk cuaca, terutama di wilayah Jawa Timur bagian selatan,” Sonni menambahkan.
Ia pun menyimpulkan, fenomena cuaca yang dirasakan masyarakat sekarang adalah hasil interaksi kompleks antara monsun Asia, CENS, dan dinamika atmosfer lainnya.
Berdasarkan data pengamatan, Sonni menduga bahwa CENS menjadi faktor penguat yang mengamplifikasi curah hujan monsun Asia pada periode ini.
“Selain itu, kehadiran siklon tropis di tenggara Pulau Jawa dekat Australia tampak membloking CENS sehingga awan awan banyak terbentuk lebih banyak dari biasanya,” pungkasnya.













