Bikin CV Pakai AI Terlalu Sempurna, Awas Malah Jadi Blunder!
TopCareer.id – Jika dulu membuat CV atau resume yang bagus dan menarik membutuhkan waktu, kini pelamar kerja bisa membuatnya secara cepat dengan bantuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
Bahkan, adanya AI generatif membuat banyak CV yang terlihat seperti ditulis oleh copywriter profesional. Tidak sedikit CV kandidat tampak seperti profesional yang sangat cocok untuk sebuah pekerjaan.
Julia Korn, seorang career coach yang juga kontributor Forbes menyebut, 70 persen pencari kerja memakai AI untuk memperbaiki CV mereka. Tingkat penggunaannya pada kelompok Gen Z bahkan mencapai 85 persen.
Tools semacam ini pun bisa membuat CV yang terlihat sempurna, serta mengandung optimalisasi kata kunci untuk Applicant Tracking System (ATS) dalam waktu singkat.
Ia menyebut, lebih dari 98 persen perusahaan Fortune 500 kini menggunakan ATS untuk menyaring CV, dengan memprioritaskan kandidat tertentu sebelum lamaran mereka dilihat manusia.
“Artinya, semakin banyak keputusan mengenai siapa yang melanjutkan ke tahap berikutnya dalam proses rekrutmen dibuat oleh perangkat lunak,” kata Korn, mengutip Forbes, Jumat (21/8/2026).
Baca Juga:
Meski begitu, Korn mengingatkan bahwa CV yang terlalu sempurna juga bisa dianggap “red flag” oleh seorang perekrut.
“Ketika kesempurnaan dalam penulisan menjadi standar, CV yang terlalu rapi kehilangan kekuatannya sebagai pembeda,” kata Korn.
Dia mengatakan, bukannya menunjukkan keunggulan kandidat, CV yang bebas dari kesalahan dan penuh optimalisasi kata kunci malah terlihat tidak autentik.
Ini malah dapat membuat manajer rekrutmen semakin curiga terhadap setiap lamaran sempurna yang masuk.
Korn mengungkapkan, hampir 20 persen perekrut mengatakan mereka akan langsung menolak kandidat yang CV atau surat lamarannya tampak dibuat oleh AI.
“Lebih dari sepertiga perekrut juga mengaku dapat mengenali tanda-tanda tersebut dalam waktu kurang dari 20 detik,” ujarnya.
Tips biar CV bagus tak jadi senjata makan tuan
Korn pun memberikan dua tips agar CV yang terlalu sempurna yang memanfaatkan bantuan AI tidak jadi senjata makan tuan bagi para pencari kerja.
- Tunjukkan ketidaksempurnaan dengan cara yang strategis dan gaya bahasamu sendiri
Biarkan CV kamu terdengar seperti ditulis oleh manusia sungguhan.
Cara mengeceknya pun mudah. Jika kamu tidak akan mengucapkan sebuah kalimat saat berbicara santai dalam percakapan networking, jangan tuliskan kalimat tersebut di CV.
- Gunakan detail yang sangat spesifik dan hindari jargon-jargon mainstream
AI cenderung menulis pencapaian secara umum seperti “meningkatkan efisiensi tim.”
Namun, perekrut biasanya ingin tahu fakta yang bisa diverifikasi seperti “mendesain ulang rangkaian email onboarding sehingga menurunkan tingkat pengguna yang berhenti sebesar 19 persen pada kuartal III.”
Detail spesifik ini merupakan bukti paling kuat bahwa pekerjaan tersebut benar-benar dilakukan manusia.
Menurut Korn, 78 persen manajer perekrutan kini mengatakan bahwa detail yang dipersonalisasi menunjukkan ketertarikan dan kecocokan kandidat yang tulus.
“Singkatnya, sentuhan manusia masih menjadi faktor penting dalam memenangkan proses rekrutmen,” tegasnya.
Baca Juga:
Korn pun melanjutkan, kamu sebaiknya menetapkan batasan yang jelas kapan AI boleh digunakan dan kapan tidak bisa dipakai selama proses mencari kerja.
Misalnya, AI boleh digunakan untuk mengatur format, mencari ide untuk poin-poin CV berdasarkan catatan Anda, serta memeriksa kata kunci setelah Anda menyusun draf.
Namun, penggunaannya sudah melewati batas ketika AI mulai menciptakan narasi, mengubah atau melebih-lebihkan rentang waktu pengalaman, atau menulis seluruh dokumen dari awal.
“Sederhananya, jika Anda tidak mampu menjelaskan setiap poin dalam CV saat wawancara dengan lancar dan tanpa ragu, berarti penggunaan AI sudah berlebihan,” pungkasnya.



