
TopCareer.id – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan temuan masalah kesehatan yang banyak dialami orang Indonesia, berdasarkan hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan kesehatan melalui program CKG. Angka ini diklaim melampaui target mingguan yang telah ditetapkan.
“Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif,” kata Budi, mengutip laman resmi Kemenkes, Rabu (22/7/2026).
Berdasarkan data CKG selama satu semester terakhir, pada kelompok bayi baru lahir, hasil Newborn Screening menunjukkan dari enam jenis skrining yang dilakukan, penyakit jantung bawaan kritis menjadi kondisi dengan potensi prevalensi tertinggi.
Hingga 28 Juni 2026, lebih dari 490 ribu bayi telah menjalani skrining menggunakan pulse oximetry. Dari jumlah itu, sekitar 4,3 persen atau 20.946 bayi teridentifikasi memiliki indikasi kelainan yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Kemenkes menilai, ini memperkuat pentingnya kesiapan layanan jantung anak mulai dari deteksi dini, sistem rujukan, hingga kapasitas rumah sakit dalam menangani penyakit jantung bawaan.
Sementara di kelompok anak usia sekolah dasar, masalah kesehatan yang paling banyak tercatat yaitu karies gigi, diikuti peningkatan tekanan darah, gangguan status gizi, serta gangguan indra pendengaran dan penglihatan.
Baca Juga: Menkes Ingatkan Bahaya Penyakit Hati Kronis, Banyak Kasus Tak Terdeteksi
Untuk kelompok SMP, masalah kesehatan gigi masih jadi temuan terbanyak.
Di kelompok ini mulai terlihat peningkatan masalah kesehatan jiwa seperti kecemasan dan depresi, serta meningkatnya risiko tuberkulosis (TB), peningkatan tekanan darah, dan masalah gizi.
Sementara pada kelompok SMA, karies gigi masih menjadi masalah utama, diikuti peningkatan tekanan darah, gangguan kesehatan mental, risiko TB, serta persoalan gizi. Temuan itu menunjukkan keseimbangan antara gizi kurang atau obesitas.
Di kelompok anak sekolah dan remaja, karies gigi jadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan, dengan lebih dari 40 persen dilaporkan dari peserta yang diperiksa.
Temuan ini diikuti anemia (27 persen), peningkatan tekanan darah (21 persen), penumpukan kotoran telinga (7 persen), serta gizi lebih dan obesitas (7 persen).
Data juga menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak lagi didominasi gizi kurang.
Proporsi anak dengan gizi lebih atau obesitas kini semakin mendekati angka gizi kurang. Menkes menyebut, ini menandakan Indonesia menghadapi double burden of malnutrition berupa gizi kurang dan gizi lebih secara bersamaan.
“Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif,” kata Menkes Budi.
Baca Juga: Menkes Ingin Naikkan Usia Harapan Hidup Orang Indonesia
Adapun di 2026, CKG memasuki tahap tatalaksana atau pengobatan bagi peserta yang telah terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus.
Hasil sementara menunjukkan sekitar 35,4 persen pasien hipertensi yang terdiagnosis di CKG 2025 telah kembali melakukan pemeriksaan pada CKG 2026. Dari jumlah tersebut, 46,9 persen dinilai berhasil mengendalikan tekanan darahnya.
Sementara pada pasien diabetes melitus, sekitar 33,1 persen telah kembali melakukan pemeriksaan dan 69,4 persen di antaranya berhasil mencapai pengendalian kadar gula darah.
Pemerintah pun menargetkan sedikitnya 50 persen pasien melakukan pengobatan rutin pada tahun ini, dengan 50 persen di antaranya mencapai kondisi terkendali, atau sekitar seperempat dari seluruh pasien hipertensi dan diabetes yang tercatat di CKG.
Menkes menegaskan, pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa skrining harus diikuti dengan pengobatan yang rutin dan pengendalian penyakit.
“Negara seperti Korea berhasil menurunkan kematian akibat penyakit kardiovaskular melalui pendekatan yang dikenal sebagai Triple 80, yaitu 80 persen masyarakat diskrining, 80 persen penderita diobati, dan 80 persen di antaranya berhasil terkendali.”



