Tren

Kejenuhan Para Pembuat Konten Youtube

6Views

TOPCAREER.ID – Pembuat konten Youtube di seluruh dunia, mulai dari Michelle Phan, Dolan Twins, Jacksepticeye, David Dobrik, Jake Paul dan bahkan Pewdiepie mulai jenuh. Fenomena ini disebut dengan istilah “burnout” yang secara harafiah memiliki arti terbakar habis. 

Dilansir dari The Guardian, 12 Agustus 2018; salah satu penyebab burnout yang dialami oleh banyak Youtuber adalah algoritma Youtube itu sendiri.

Menurut Bapak Internet, Privasi Itu Anomali Zoe Glatt, seorang peneliti PhD dari London School of Economics yang melaksanakan etnografi digital terhadap Youtuber, mengatakan bahwa algoritma Youtuber lebih menyukai akun yang melakukan upload secara reguler dan memiliki konten dengan fokus yang sempit. 

“Para pembuat konten didorong untuk mengejar pendekatan kuantitas-daripada-kualitas jika mereka ingin mencapai sukses di Youtube,” ujarnya.

 “Ini, dikombinasikan dengan ketidakjelasan tentang konten apa yang akan dipromosikan oleh Youtube dan apa yang mungkin didemonetisasi (dimatikan monetisasinya) menyebabkan kehidupan kerja yang sangat tidak pasti dan membuat stres bagi para pembuat konten,” imbuhnya lagi. 

Algoritma juga membuat para Youtuber yang pada dasarnya adalah orang-orang kreatif tidak berani mengambil risiko dan mengulang-ulang konten yang sudah terbukti berhasil, ujar Charlie McDonell, seorang veteran Youtuber yang sudah berkali-kali mengalami burnout. 

Di samping algoritma, kompetisi di antara para Youtuber juga menjadi semakin sengit karena jumlah pembuat konten yang semakin banyak dari hari ke hari, ujar Matt Gielen dari Little Monster Media Company, agensi yang berspesialisasi dalam membangun audiens di Youtube. 

Hal ini memaksa para Youtuber untuk bekerja lebih keras dan menghasilkan lebih banyak konten pada kualitas yang lebih baik untuk sukses di platform ini. 

“Dulunya Anda bisa membangun audiens yang lumayan hanya dengan satu video berdurasi tiga menit per minggu,” ujar Gielen.

Namun, kini hasil penelitiannya menunjukkan bahwa mayoritas Youtuber harus mengunggah setidaknya tiga video berdurasi 10-12 menit per minggu untuk bisa mendapatkan bantuan promosi dari algoritma. 

Tentu saja, burnout tidak hanya dialami oleh para Youtuber. Seorang karyawan kantoran biasa pun bisa mengalami burnout jika terus-terusan ditekan untuk menjaga produktivitas tinggi selama jangka waktu yang Panjang.

Cara kerja Youtuber berbeda dari pekerja kantoran pada umumnya atau orang-orang yang bekerja di media tradisional. Para Youtuber biasanya harus bekerja sendirian, mulai dari membuat ide, merekam video, membintangi video, mengedit video hingga membalas komentar-komentar para subscriber. 

“Ini seperti lima pekerjaan yang jadi satu. Dan ada tekanan untuk memastikan bahwa kamu melayani semua audiensmu secara luar biasa setiap saat,” ujar Michael Wayne, CEO dari Kin Community, sebuah jaringan hiburan digital, kepada Variety, 29 Agustus 2018. 

Apalagi seorang Youtuber biasanya adalah wajah dari akunnya sendiri. Wayne mengatakan, jika channel-mu (di Youtube) adalah namamu, maka kamu dan brand-mu adalah sama. Ini (membuatmu) tidak bisa mundur. Youtube kini telah mengakui adanya masalah burnout di antara para pembuat kontennya. Pada tahun lalu, platform tersebut meluncurkan panduan berjudul “Staying Well and Avoiding Burnout” di YouTube Creator Academy yang berisi tips-tips untuk mencegah burnout.

Leave a Reply