Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Minggu, Agustus 1, 2021
redaksi@topcareer.id
Profesional

Mana Lebih Baik, Nge-dubbing Posisi Berdiri atau Duduk?

Topcareer.id Menjadi pengisi suara atau dubber sama saja dengan berakting selayaknya aktor. Bedanya, aktor kelihatan wajahnya. Dubber tidak. Seorang dubber mengandalkan suara untuk berakting menghayati karakter.

Agar suara yang dikeluarkan bisa maksimal dan seolah “berakting”, maka seorang dubber atau voice over selama proses penyulihan suara akan merasa lebih baik jika dalam posisi berdiri. Kenapa?

Tisa Julianti, dubber dan juga voice over professional yang sudah berpengalaman dalam industri sulih suara selama puluhan tahun pun menjawab. Menurutnya, sulih suara itu layaknya berakting atau bernyanyi yang sangat bertumpu pada suara yang dikeluarkan sehingga ketika dalam posisi berdiri, akan lebih all out.

Meski, sebenarnya proses dubbing ini bisa dilakukan sambil berdiri atau sambil duduk, tetapi untuk beberapa projek yang membutuhkan suara akting yang mendalam, posisi berdiri adalah yang paling baik.

“Kalau aku (isi suara untuk) iklan lebih baik berdiri. Karena iklan itu cuma 60 second atau 15 second, atau 30 second, berarti kita harus all out. Apalagi iklan, itu karakternya berbeda-beda. Aku lebih nyaman berdiri. Aku bisa gerak-gerak, bisa lebih lepas ngeluarin suaranya, beda kala duduk,” ujar Tisa saat ditemui TopCareer.id beberapa waktu lalu.

Untuk voice over iklan, kata Tisa, akan lebih detail selama proses penyulihan suara. Nada atau intonasi kalimat demi kalimat akan sangat diperhatikan. Berbeda dengan dubbing serial televisi atau beberapa film yang mungkin kejar tayang.

Menurutnya, naskah dubbing serial televisi yang cukup panjang dan memakan durasi lama akan lebih baik jika prosesnya dilakukan dengan posisi duduk.

“Nah kalau film, karena memang banyak baca naskahnya dan enggak dituntut sesempurna mungkin, jadi ya udah duduk aja, kan capek.”

Apalagi seorang dubber kadang harus meladeni 3-4 episode untuk satu serial televisi dalam sehari, ditambah projek film atau serial TV lainnya. Proses sulih suaranya pun tidak serumit dalam proses voice over iklan yang detail tiap kalimatnya sangat diperhatikan.

Nah, berbeda lagi pada proses sulih suara film Disney, di mana Tisa kerap langganan mengisi suara para Princess Disney ini. Lebih sering dituntut all out, Tisa lebih nyaman melakukan beberapa dialog dengan posisi berdiri, namun ada kalanya juga cukup dengan duduk.

“Kalau pas di adegan kita teriak, aku biasanya diri, tapi kalau udah ngomong biasa lagi aku duduk lagi. Kadang kalau nyanyi itu di Disney, aku berdiri,” tutur ibu dua anak ini. *

Editor: Ade Irwansyah

Tinggalkan Balasan