Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Monday, September 16, 2019
redaksi@topcareer.id
Profesional

Beda Personal Stylist dan Personal Shopper

Views

Topcareer.id Salah satu peran sebagai personal stylist, yakni ikut membelanjakan pakaian-pakaian yang tepat bagi klien. Tujuannya demi mendukung penampilan sang klien, tentu. Namun, hal itu bukan berarti pekerjaan personal stylist sama dengan profesi personal shopper.

Indah Warsetio sebagai Personal Image Consultant menjelaskan perbedaannya kepada TopCareer.id. Ya, menurut Indah, personal stylist dan personal shopper sama-sama eksis di industri fashion, tapi inti dari jobdesk mereka berbeda.

Indah menyampaikan pekerjaan inti seorang personal stylist ini mampu mengemas dan memadupadankan mulai dari pakaian, aksesoris, dan elemen fashion lainnya sehingga mampu menampilkan tampilan menarik tersendiri.

“Head to toe, dari atas sampai bawah untuk mebuat occasion tertentu, mungkin untuk photoshoot, syuting atau memang untuk pertemuan,” kata Indah saat ditemu TopCareer.id di Senayan Trade Center (STC), Kamis (18/4/2019).

Sementara, jika menilik pekerjaan personal stylist dilansir dari Thebalance.com, adalah membantu klien mencapai penampilan secara keseluruhan, mengasah selera gaya yang tepat termasuk memilah pakaian untuk lemari klien. Jadi, tak jarang stylist ikut berperan sebagai personal shopper dengan keahlian fashion yang dimiliki.

Orang yang benar-benar tak memiliki banyak waktu untuk memikirkan penampilan yang tepat dari ujung rambut hingga ujung kaki, maka masuk ranah tugas personal stylist.

Lalu, personal shopper menurut Indah, memiliki pekerjaan dengan tujuan memberi konsultasi dalam hal berbelanja pada klien. Indah menyebut personal shopper itu ibarat guide dalam berbelanja.

Para personal shopper ini juga perlu mengetahui item-item yang paling penting sebagai kebutuhan klien. Dan tentunya paham bagaimana menggunakan budget untuk dibelanjakan sesuai kebutuhan dan personality klien.

Deskripsi pekerjaan personal shopper dari Thebalance.com, yakni memberikan saran belanja berdasarkan pengetahuan soal produk, layanan, hingga tren yang ada. Ibaratnya, personal shopper itu konsultan terpercaya bagi pembeli dalam membelanjakan kebutuhan yang diinginkan.

Dalam hal ini klien atau pembeli sudah mengetahui apa yang ingin ia belanjakan, hanya saja terkait produk lebih dalam akan dikonsultasikan dulu kepada personal shopper ini. Untuk itu, personal shopper perlu meneliti berbagai merek di toko, terkait gaya juga pusat perbelanjaannya.

“Layanannya gratis, pakaiannya tidak; kebanyakan Personal Shoppers di department store membuat komisi atas pakaian yang mereka jual. Ini berarti bahwa itu adalah tujuan mereka, dan toko, terbaik untuk mengarahkan pelanggan ke merek kelas atas,” seperti yang tertulis dalam laman Corporette. *

Editor: Ade Irwansyah

hildailhamil@gmail.com'

Leave a Reply